Lombok , 25 June 2026

Kisah dibalik Pembiayaan dan Pemberdayaan dari PNM yang mengubah kehidupan

Kisah dibalik Pembiayaan dan Pemberdayaan dari PNM yang mengubah kehidupan

LOMBOK INSIDER – Ada satu hal yang sering kali luput ketika kita berbicara tentang pemberdayaan masyarakat kecil yaitu mereka sebenarnya tidak kekurangan semangat bekerja, namun yang sering hilang adalah rasa dipercaya. Banyak perempuan pengusaha ultra mikro menjalani hidup dalam ruang yang sempit. Penghasilan terbatas, usahanya kecil, aset nyaris tidak ada.  Mereka hidup dari keuntungan harian yang kadang hanya cukup untuk membeli bahan makanan. Namun di tengah keterbatasan itu, mereka tetap bangun paling pagi dan istirahat paling akhir demi menjaga dapur tetap menyala. Ironisnya, kelompok yang bekerja paling keras ini justru sering menjadi kelompok yang paling sulit mendapatkan kepercayaan.  Dalam sistem keuangan formal, kepercayaan kerap diterjemahkan dalam bentuk angka dan jaminan. Untuk mendapatkan akses pembiayaan, seseorang diminta menunjukkan aset, agunan, histori keuangan, hingga kemampuan administrasi yang baik.

Sementara bagi usaha ultra mikro, jangankan memiliki jaminan, banyak dari mereka bahkan masih berjuang memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Di titik inilah masyarakat kecil sering kalah sebelum benar-benar diberi kesempatan. Bukan karena mereka tidak memiliki kemauan untuk berkembang, tetapi karena mereka tidak memiliki sesuatu yang dianggap layak untuk dipercaya. Padahal bagi pengusaha ultra mikro, akses pembiayaan tanpa jaminan bukan sekadar fasilitas keuangan, namun bentuk pengakuan bahwa mereka dianggap mampu, kerja keras mereka bernilai, dan mereka memiliki peluang untuk tumbuh meski hidup dalam keterbatasan. Cerita itu dirasakan langsung oleh Sri Aryanti Nurafiah, nasabah PNM Mekaar Cikarang Barat. Sebagai ibu rumah tangga, Yanti awalnya hanya ingin membantu perekonomian keluarga karena merasa penghasilan suaminya belum cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari. Berbekal sedikit kemampuan membuat gantungan kunci, ia memiliki keinginan membuka usaha kriya. Namun seperti banyak pengusaha ultra mikro lainnya, keterbatasan modal membuat langkah itu sempat dipenuhi keraguan.

“Kalau hanya mengandalkan gaji suami saya rasa kurang cukup. Saya ingin membuka usaha kriya-kriya, tapi dengan keterbatasan modal saya bimbang,” ujarnya. Hingga pada tahun 2022, PNM hadir memberikan akses pembiayaan usaha. Modal yang diterima Yanti langsung digunakan untuk membeli bahan baku usaha. Dari usaha kecil yang awalnya hanya dikerjakan sederhana dari rumah, perlahan usahanya berkembang. Yang sebelumnya tak pernah ia bayangkan, kini menjadi kenyataan. “Tak terpikirkan sebelumnya, ternyata usaha saya makin berkembang sampai saat ini. Modal saya juga makin ditambah oleh PNM, maka dari itu saya berani membuka lapak usaha saya,” katanya.