3 Cara Menghitung Modal Usaha, Lengkap dengan Contohnya!

Sebelum memulai usaha, kamu perlu tahu cara menghitung modal usaha dengan tepat. Banyak usaha kecil yang akhirnya kehabisan dana di tengah jalan karena sejak awal tidak menghitung kebutuhan modalnya dengan benar.
Artikel ini akan membahas tentang cara menghitung modal usaha, mulai dari komponen apa saja yang perlu dihitung, metode perhitungan yang bisa kamu pakai, sampai contoh sederhananya. Yuk, simak sampai habis.
Kenapa Menghitung Modal Usaha Itu Penting?
Modal usaha mencakup seluruh dana yang kamu butuhkan agar bisnismu bisa mulai berjalan dan bertahan di bulan-bulan awal.
Kalau modal dihitung asal-asalan, kamu bisa kekurangan dana saat usaha baru berjalan, terutama ketika pemasukan belum stabil.
Kamu juga bisa kesulitan menentukan harga jual karena belum mengetahui berapa banyak biaya yang sudah dikeluarkan.
Selain itu, pengeluaran usaha bisa menjadi sulit dikontrol karena tidak ada perhitungan yang jelas. Kamu pun akan lebih sulit menilai apakah usahamu membutuhkan tambahan modal atau masih bisa berjalan menggunakan dana yang tersedia.
Oleh karena itu, sebelum membuka usaha, luangkan waktu untuk menghitung modal yang kamu butuhkan secara rinci.
Dengan begitu, kamu bisa mengetahui berapa modal yang benar-benar kamu butuhkan sehingga bisa mempersiapkan dana dengan lebih matang.
Baca juga: Ini 10 Cara Memulai Usaha dari Nol yang Perlu Kamu Tahu
Komponen yang Perlu Dihitung dalam Modal Usaha
Sebelum masuk ke rumus, kamu perlu tahu dulu komponen apa saja yang termasuk dalam modal usaha. Umumnya, modal usaha terdiri dari tiga bagian berikut.
- Modal investasi: Dana untuk membeli barang atau aset yang dipakai dalam jangka panjang, misalnya mesin produksi, peralatan toko, komputer, atau kendaraan usaha.
- Modal kerja: Dana yang dipakai untuk kebutuhan produksi sehari-hari, seperti membeli bahan baku, kemasan, atau barang dagangan yang akan dijual kembali.
- Biaya operasional: Pengeluaran rutin bulanan supaya usaha tetap jalan, contohnya sewa tempat, listrik, air, internet, sampai gaji karyawan kalau kamu sudah punya bantuan tenaga kerja.
Selain tiga komponen tersebut, ada baiknya kamu juga menyiapkan dana cadangan. Dana ini bisa digunakan jika pada bulan pertama usahamu belum menghasilkan keuntungan, penjualan masih sepi, atau muncul pengeluaran tidak terduga seperti perbaikan peralatan dan kebutuhan operasional tambahan.
Dengan adanya dana cadangan, kamu tidak perlu langsung mengambil uang pribadi atau mencari tambahan modal saat menghadapi kondisi tersebut.
Cara Menghitung Modal Usaha
Ada beberapa cara menghitung modal usaha yang bisa kamu gunakan tergantung pada kondisi dan jenis usahamu.
Jadi, kamu tidak perlu menghitung modal dengan semua metode berikut sekaligus. Pilih cara yang paling sesuai dengan kondisi usahamu.
Cara Menghitung | Cocok Digunakan Saat |
Modal investasi + modal kerja + biaya operasional | Kamu baru akan memulai usaha dan ingin mengetahui berapa dana yang perlu disiapkan. |
Modal akhir − laba + prive | Usaha sudah berjalan dan kamu ingin mengetahui perkiraan modal awal berdasarkan kondisi keuangan usaha. |
Biaya peralatan + biaya operasional | Kamu ingin memisahkan dana untuk membeli peralatan dari biaya yang digunakan untuk menjalankan usaha. |
1. Rumus Modal Investasi, Modal Kerja, dan Biaya Operasional
Cara ini paling cocok untuk usaha yang baru mau dimulai. Kamu tinggal menjumlahkan tiga komponen yang sudah dijelaskan di atas.
Rumusnya seperti ini.
Modal Awal = Modal Investasi + Modal Kerja + Biaya Operasional
Untuk menentukan nominal setiap komponen, kamu perlu membuat daftar kebutuhan usaha terlebih dahulu.
Catat barang dan biaya yang memang dibutuhkan untuk memulai usaha, kemudian cari tahu harga atau perkiraan biayanya. Setelah itu, kelompokkan setiap kebutuhan ke dalam modal investasi, modal kerja, atau biaya operasional.
Untuk modal investasi, nominalnya dihitung dari total biaya untuk membeli peralatan atau barang yang bisa digunakan dalam jangka panjang, seperti rak, etalase, timbangan, kompor, atau mesin.
Modal kerja dihitung dari dana yang dibutuhkan untuk menyediakan stok barang atau bahan baku awal. Sementara itu, biaya operasional dihitung dari pengeluaran yang diperlukan agar usaha bisa berjalan, seperti listrik, air, kemasan, transportasi, atau sewa tempat.
Sebagai contoh, Bu Tami membutuhkan rak dan timbangan sebagai modal investasi sebesar Rp800.000. Untuk modal kerja, dia membeli stok sembako awal sebesar Rp1.500.000.
Sementara biaya operasional bulanan seperti listrik dan plastik kemasan diperkirakan Rp200.000. Maka, perhitungannya adalah sebagai berikut:
Komponen | Nominal |
Modal investasi | Rp800.000 |
Modal kerja | Rp1.500.000 |
Biaya operasional | Rp200.000 |
Total modal awal | Rp2.500.000 |
Jadi, modal awal yang perlu disiapkan Bu Tami untuk membuka warung sembako sekitar Rp2.500.000.
Baca juga: 17 Ide Usaha di Kampung Beserta Tips Memulai Usahanya
2. Rumus Berdasarkan Laba, Modal Akhir, dan Prive
Cara ini biasanya dipakai oleh pemilik usaha yang bisnisnya sudah berjalan. Tujuannya untuk mengetahui kembali berapa modal awal yang sebenarnya sudah ditanam di usaha. Ada tiga istilah yang perlu kamu pahami dulu jika ingin menggunakan metode ini:
- Laba, yaitu keuntungan bersih yang didapat dari usaha.
- Modal akhir, yaitu total dana yang dimiliki bisnis setelah berjalan dalam periode tertentu.
- Prive, yaitu dana yang diambil pemilik usaha untuk keperluan pribadi, di luar kebutuhan bisnis.
Rumusnya adalah sebagai berikut.
Modal Awal = Modal Akhir - Laba + Prive
Contohnya, setelah tiga bulan berjualan, modal akhir warung Bu Tami tercatat Rp3.200.000. Selama tiga bulan itu, dia mendapat laba Rp900.000 dan pernah mengambil uang usaha Rp150.000 untuk keperluan pribadi. Perhitungannya adalah sebagai berikut:
Rp3.200.000 − Rp900.000 + Rp150.000
= Rp2.450.000
Jadi, modal awal usaha Bu Tami adalah Rp2.450.000. Angka ini cukup mendekati modal yang memang ia keluarkan saat membuka warung, yaitu Rp2.500.000.
3. Memisahkan Biaya Peralatan dan Biaya Operasional
Cara ketiga ini cocok kalau usahamu membutuhkan peralatan atau perlengkapan dengan biaya cukup besar di awal.
Sederhananya, kamu memisahkan biaya untuk membeli barang yang bisa digunakan dalam jangka panjang dari biaya yang perlu dikeluarkan secara rutin untuk menjalankan usaha.
Jenis Biaya | Arti Sederhana | Contoh |
Biaya peralatan | Biaya untuk membeli barang yang bisa digunakan dalam jangka panjang. | Etalase, rak, timbangan, mesin, dll. |
Biaya operasional | Biaya yang perlu dikeluarkan untuk menjalankan usaha. | Listrik, sewa, kemasan, transportasi, dll. |
Rumusnya:
Modal Awal = Biaya Peralatan + Biaya Operasional
Misalnya, Bu Tami membutuhkan etalase dan rak senilai Rp1.000.000. Sementara itu, biaya operasional untuk bulan pertama diperkirakan Rp300.000. Jadi, modal awal yang perlu disiapkan adalah Rp1.300.000.
Namun, perhitungan ini belum termasuk stok barang dagangan. Jika Bu Tami juga membutuhkan Rp1.500.000 untuk membeli stok sembako awal, jumlah dana yang perlu disiapkan menjadi Rp2.800.000.
Tips Agar Perhitungan Modal Usaha Lebih Akurat
Selain memahami rumusnya, ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan supaya hasil perhitungan modal lebih mendekati kondisi usaha yang sebenarnya:
- Catat semua kebutuhan usaha secara rinci. Tuliskan peralatan, stok barang atau bahan baku, serta biaya lain yang diperlukan agar usahamu bisa mulai berjalan. Jangan hanya mengandalkan perkiraan kasar.
- Survei harga terlebih dahulu. Cari tahu harga barang dagangan, bahan baku, dan peralatan dari beberapa penjual agar perhitungan modalmu lebih sesuai dengan kondisi pasar.
- Hitung total modal yang dibutuhkan. Setelah mengetahui kebutuhan dan perkiraan harganya, jumlahkan seluruh biaya untuk mengetahui berapa dana yang perlu disiapkan.
- Siapkan dana cadangan. Sisihkan dana tambahan untuk menghadapi kondisi seperti penjualan yang belum stabil atau pengeluaran tidak terduga pada bulan-bulan awal usaha.
- Pisahkan uang pribadi dan uang usaha. Gunakan uang usaha hanya untuk kebutuhan bisnis agar jumlah modal dan kondisi keuangan usaha lebih mudah dipantau.
- Evaluasi perhitungan modal secara berkala. Periksa kembali kebutuhan modal ketika harga barang berubah, usaha berkembang, atau kamu menambah produk dan peralatan baru.
Setelah paham cara menghitung modal usaha melalui contoh dan tips di atas, kamu jadi bisa memperkirakan berapa dana yang dibutuhkan untuk menjalankan dan mengembangkan bisnismu.
Kalau setelah dihitung ternyata modal yang kamu butuhkan cukup besar, kamu bisa mempertimbangkan pembiayaan usaha melaluiPNM ULaMM yang ditujukan untuk membantu pelaku usaha mikro dan kecil, baik laki-laki maupun perempuan yang membutuhkan tambahan modal untuk mengembangkan usahanya.
PNM atau PT Permodalan Nasional Madani (Persero) adalah lembaga keuangan nonbank milik negara yang menjadi bagian dari Holding Ultra Mikro bersama BRI dan Pegadaian di bawah Danantara.
Selain itu, sejalan dengan campaign Melayani Sepenuh Hati, PNM juga memberikan pendampingan untuk membantu kamu mengembangkan usahamu. Melalui programPengembangan Kapasitas Usaha (PKU), PNM memberikan berbagai pelatihan yang mencakup literasi keuangan, literasi usaha, dan literasi digital.
Dengan begitu, kamu tidak hanya mendapatkan tambahan modal, tetapi juga bisa memperoleh pengetahuan dan keterampilan untuk mengelola keuangan, memasarkan produk, memanfaatkan teknologi, dan mengembangkan usaha dengan lebih baik.
Perlu diketahui, PNM tidak menawarkan pinjaman online melalui aplikasi atau website tertentu. Pengajuan pembiayaan hanya dapat dilakukan melalui saluran resmi yang disediakan oleh PNM.
Jika kamu tertarik mengajukan pembiayaan melaluiPNM ULaMM, kamu bisa mendatangikantor cabang PNM di kotamu, mengecek informasi melaluiwebsite resmi PNM, atau menghubungi call center PNM di 1500-654. Pastikan kamu menggunakan informasi dan layanan resmi PNM agar terhindar dari pihak yang mengatasnamakan PNM.






