Publikasi
PNM Lunasi Surat Utang Jatuh Tempo Senilai Rp 390 Miliar
09/10/2020

PT Permodalan Nasional Madani (Persero) menyatakan kesiapan melunasi jatuh tempo surat utang jangka menengah atau Medium Terms Notes (MTN) XVIII 2018 seri A senilai Rp 390 miliar. Adapun surat utang jangka menengah ini digunakan perseroan sebagai modal kerja yang disalurkan untuk pembiayaan UMKM dan ultra mikro. Executive Vice President Keuangan dan Operasional PNM Sunar Basuki mengatakan MTN akan jatuh tempo pada 27 September mendatang. "Kami tetap berkomitmen menjaga kepercayaan investor dengan melunasi setiap kewajiban yang akan jatuh tempo termasuk MTN XVIII 2018 Seri A," ujarnya dalam keterangan tulis, Jumat (25/9). Menurutnya pandemi tak melunturkan semangat PNM menggenjot momentum pertumbuhan penyaluran pembiayaan sejak awal semester dua 2020, demi kebangkitan kinerja perseroan. "Meskipun kami turut terdampak akibat pandemi, namun likuiditas tetap terjaga karena ekonomi nasabah yang kami biayai kembali menggeliat dan bangkit," ucapnya. Tercatat hingga 24 September 2020, penyaluran pembiayaan PNM telah mencapai Rp 16 triliun untuk program ULaMM dan PNM Mekaar, kepada 6.838.121 nasabah dengan tetap menjalankan protokol kesehatan. Pada periode yang sama total outstanding perseroan senilai Rp 19,1 triliun. Perseroan juga berhasil menjaga rasio Non Performing Loan (NPL) konsolidasi pada level 1,38 persen. Selain itu, perseroan juga tetap memberikan pelatihan dan pendampingan melalui Program Pengembangan Kapasitas Usaha kepada nasabah agar dapat tetap produktif selama pandemi. MTN XVIII PT Permodalan Nasional Madani (Persero) 2018 Seri A terbit pada 27 September 2018 dan memiliki besaran bunga 9,25 persen. Sebelumnya, PNM juga telah melunasi Obligasi Berkelanjutan II Tahap 1 Seri A Tahun 2017 senilai Rp 750 miliar yang jatuh tempo pada 12 Juli 2020. Saat ini PNM memiliki lebih dari tiga ribu kantor layanan di seluruh Indonesia yang melayani UMK di 34 provinsi, 427 kabupaten atau kota, dan 4.290 kecamatan. Sumber: https://republika.co.id/berita/qh7ie4383/pnm-lunasi-surat-utang-jatuh-tempo-senilai-rp-390-miliar

Selengkapnya
Erick Thohir Rombak Direksi dan Komisaris PNM, Ini Daftarnya
09/10/2020

Menteri BUMN Erick Thohir kembali merombak jajaran direksi dan komisaris BUMN. Kali ini, perombakan dilakukan di PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM. Berdasarkan SK Menteri BUMN No: 303/MBU/09/2020 Tentang Pemberhentian, Perubahan Nomenklatur Jabatan, dan Pengangkatan Anggota-Anggota Direksi PT PNM (Persero) dan SK Menteri BUMN No: 304/MBU/09/2020 Tentang Pengangkatan Anggota Dewan Komisaris PT PNM (Persero) yang berlaku sejak tanggal 23 September 2020, Erick mengganti pejabat Direktur Bisnis PNM, dan menambah satu nomenklatur yakni Direktur Kelembagaan. Dikutip dari keterangan resmi PNM, Senin (28/9/2020), jabatan Direktur Bisnis saat ini diduduki oleh Anton Fahlevie. Ia menggantikan Abianti Riana yang diberhentikan Erick dari jabatan Direktur Bisnis I PNM. Fajrie, sapaan akrab Noer Fajrieansyah juga sudah malang melintang di berbagai perusahaan BUMN diawali dari PT Antam Tbk, hingga menjadi Direktur Corporate Resources di PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PT PPI), dan setelahnya menjadi salah satu direksi di PT Pos Indonesia.Sebelum menjabat sebagai Direktur Bisnis PNM, Anton merupakan Direktur Utama PT Asuransi Chubb Syariah Indonesia sejak Januari 2014 dan sebelumnya merupakan Konsultan Sistem Manajemen PT Surveyor Indonesia (Persero), Konsultan dan Lead Auditor PT Sucofindo (Persero), serta pernah menjadi bagian dari PNM sejak tahun 2000 hingga 2011. Sementara, nomenklatur baru yakni Direktur Kelembagaan dijabat oleh Noer Fajrieansyah. Pria berusia 37 tahun yang sebelumnya merupakan Direktur Strategic, Portofolio & IT PT Pos Indonesia (Persero) sejak tahun 2017. Selain itu, jajaran komisaris PNM juga dirombak. Parman Nataatmadja diangkat menjadi komisaris PNM mulai 23 September 2020. Berikut susunan dewan komisaris PNM: Parman adalah mantan Direktur Utama PNM periode 2008-2018 dan sebelumnya juga telah menduduki beberapa jabatan strategis diantaranya Staf Khusus V Menteri BUMN (Februari 2018 - Mei 2019), Komisaris Bank BTN (Maret 2018 - Mei 2019), Komisaris Utama Bank BRI Syariah (April 2019 - September 2020), Tenaga Ahli Menteri Agraria dan Tata Ruang atau Kepala Badan Pertanahan Bidang Pembinaan UKM dan Ekonomi (Januari 2020 - saat ini). Komisaris Utama: Rully Indrawan Komisaris Independen: M. Sholeh Amin Komisaris Independen: Meidyah Indreswari Komisaris Independen: Veronica Colondam Komisaris: Parman Nataatmadja Susunan direksi PNM: Direktur Utama: Arief Mulyadi Direktur Keuangan: Tjatur H. Priyono Direktur Kepatuhan dan Manajemen Risiko: M.Q. Gunadi Direktur Bisnis: Anton Fahlevie Direktur Kelembagaan: Noer Fajrieansyah Sumber : https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5191646/erick-thohir-rombak-direksi-dan-komisaris-pnm-ini-daftarnya

Selengkapnya
PNM Lunasi MTN Jatuh Tempo Rp390 Miliar
09/10/2020

PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM siap melunasi jatuh tempo surat utang jangka menengah atau medium terms notes (MTN) XVIII tahun 2018 seri A senilai Rp390 miliar. Sebelumnya, surat utang jangka menengah ini digunakan perseroan sebagai modal kerja yang disalurkan untuk pembiayaan usaha mikro kecil menengah (UMKM) dan ultra mikro.Executive Vice President Keuangan dan Operasional PT PNM (Persero), Sunar Basuki menjelaskan MTN ini akan jatuh tempo pada 27 September mendatang. "Kami tetap berkomitmen menjaga kepercayaan investor dengan melunasi setiap kewajiban yang akan jatuh tempo termasuk MTN XVIII tahun 2018 seri A ini," jelas Sunar dalam keterangannya, Jumat (25/9/2020). Sunar menjelaskan bahwa pandemi tak melunturkan semangat PNM menggenjot momentum pertumbuhan penyaluran pembiayaan sejak awal semester II/2020, demi kebangkitan kinerja perseroan. "Meskipun kami turut terdampak akibat pandemi, namun likuiditas tetap terjaga karena ekonomi nasabah yang kami biayai kembali menggeliat dan bangkit," jelasnya. Hingga 24 September 2020, penyaluran pembiayaan PNM telah mencapai Rp16,0 triliun untuk program ULaMM dan PNM Mekaar, kepada 6.838.121 nasabah dengan tetap menjalankan protokol kesehatan. Pada periode yang sama total outstanding perseroan mencapai Rp 19,1 triliun. Perseroan juga berhasil menjaga rasio non performing loan (NPL) konsolidasi pada level 1,38%. Selain itu, perseroan juga tetap memberikan pelatihan dan pendampingan melalui Program Pengembangan Kapasitas Usaha kepada nasabah agar dapat tetap produktif selama pandemi. Sebagai informasi MTN XVIII PT Permodalan Nasional Madani (Persero) tahun 2018 Seri A terbit pada 27 September 2018 dan memiliki besaran bunga 9,25%. Sebelumnya, PNM juga telah melunasi Obligasi Berkelanjutan II Tahap 1 Seri A Tahun 2017 sebesar Rp 750 milliar yang jatuh tempo pada 12 Juli 2020. Saat ini PNM memiliki lebih dari 3.000 kantor layanan di seluruh Indonesia yang melayani UMK di 34 Provinsi, 427 Kabupaten atau Kota, dan 4.290 Kecamatan. Sumber : https://finansial.bisnis.com/read/20200925/89/1296587/pnm-lunasi-mtn-jatuh-tempo-rp390-miliar

Selengkapnya
PNM Lunasi Surat Utang Jatuh Tempo Senilai Rp 390 Miliar
09/10/2020

PT Permodalan Nasional Madani (Persero) menyatakan kesiapan melunasi jatuh tempo surat utang jangka menengah atau Medium Terms Notes (MTN) XVIII 2018 seri A senilai Rp 390 miliar. Adapun surat utang jangka menengah ini digunakan perseroan sebagai modal kerja yang disalurkan untuk pembiayaan UMKM dan ultra mikro. Executive Vice President Keuangan dan Operasional PNM Sunar Basuki mengatakan MTN akan jatuh tempo pada 27 September mendatang. "Kami tetap berkomitmen menjaga kepercayaan investor dengan melunasi setiap kewajiban yang akan jatuh tempo termasuk MTN XVIII 2018 Seri A," ujarnya dalam keterangan tulis, Jumat (25/9). Menurutnya pandemi tak melunturkan semangat PNM menggenjot momentum pertumbuhan penyaluran pembiayaan sejak awal semester dua 2020, demi kebangkitan kinerja perseroan. "Meskipun kami turut terdampak akibat pandemi, namun likuiditas tetap terjaga karena ekonomi nasabah yang kami biayai kembali menggeliat dan bangkit," ucapnya. Tercatat hingga 24 September 2020, penyaluran pembiayaan PNM telah mencapai Rp 16 triliun untuk program ULaMM dan PNM Mekaar, kepada 6.838.121 nasabah dengan tetap menjalankan protokol kesehatan. Pada periode yang sama total outstanding perseroan senilai Rp 19,1 triliun. Perseroan juga berhasil menjaga rasio Non Performing Loan (NPL) konsolidasi pada level 1,38 persen. Selain itu, perseroan juga tetap memberikan pelatihan dan pendampingan melalui Program Pengembangan Kapasitas Usaha kepada nasabah agar dapat tetap produktif selama pandemi. MTN XVIII PT Permodalan Nasional Madani (Persero) 2018 Seri A terbit pada 27 September 2018 dan memiliki besaran bunga 9,25 persen. Sebelumnya, PNM juga telah melunasi Obligasi Berkelanjutan II Tahap 1 Seri A Tahun 2017 senilai Rp 750 miliar yang jatuh tempo pada 12 Juli 2020. Saat ini PNM memiliki lebih dari tiga ribu kantor layanan di seluruh Indonesia yang melayani UMK di 34 provinsi, 427 kabupaten atau kota, dan 4.290 kecamatan. Sumber : https://republika.co.id/berita/qh7ie4383/pnm-lunasi-surat-utang-jatuh-tempo-senilai-rp-390-miliar

Selengkapnya
PNM Lunasi Utang Medium Term Note Rp 390 Milliar
09/10/2020

Selengkapnya
PMN dan Bantuan Usaha Mikro Jaga Aktivitas Ekonomi saat Pandemi
09/10/2020

Pemerintah sebelumnya telah memberikan tambahan penyertaan modal negara (PMN) kepada PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM sebesar Rp1 triliun yang termasuk dalam Anggaran APBN 2020 yang diatur dalam UU RI No 20 Tahun 2019. Pemberian suntikan modal ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 31 Tahun 2020 dan mulai berlaku sejak diundangkan, 6 Juli 2020, yakni dana tambahan modal ini telah diterima oleh PNM pada tanggal 29 Juli lalu. Selanjutnya, terkait Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) kembali PNM diberi kepercayaan oleh pemerintah mendapatkan tambahan Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp1,5 triliun guna percepatan pemulihan ekonomi akibat dampak pandemi covid-19 terutama untuk sektor ultra mikro. PMN sebesar Rp1,5 triliun ini sudah dalam proses penerbitan Peraturan Pemerintah yang akan menjadi dasar pemberian tambahan modal negara pada PNM, dan diharapkan akan dapat terealisasi pada akhir September atau paling lambat di awal Oktober 2020.

Selengkapnya
Hingga Agustus 2020, pembiayaan PNM capai Rp 12,55 triliun
09/10/2020

Bisnis PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM mulai membaik. Hal ini terlihat perbaikan nilai pembiayaan perseroan yang sempat tertekan akibat Covid-19. Hingga Agustus 2020, PNM mencatatkan penyaluran pembiayaan Rp 12,55 triliun atau turun 7,69% secara year on year (yoy). Meski demikian, jumlah nasabah PNM meningkat 28,31% yoy menjadi Rp 6,62 juta orang dari program ULaMM dan Mekaar. "Pertumbuhan membaik karena geliat ekonomi di bawah. Kami juga tetap hati-hati dan selalu mengingatkan nasabah agar tetap menjaga protokol kesehatan," kata Direktur Utama PNM Arief Mulyadi kepada Kontan.co.id, pekan lalu. Dengan prinsip kehati-hatian dan menerapkan protokol kesehatan, ia berharap perusahaan tetap bisa menyalurkan pembiayaan kepada jutaan nasabah. Hal ini dibarengi pendampingan agar mereka tetap produktif selama pandemi. Pada periode yang sama, total outstanding perseroan mencapai Rp 17,47 triliun dari program ULaMM dan Mekaar. Jumlah tersebut meningkat 14,52% dibandingkan realisasi Agustus 2019 yakni Rp 15,25 triliun. Perusahaan juga sukses menjaga rasio kredit macet (NPF) di level 1,38%. Padahal NPL Agustus tahun lalu lebih tinggi yaitu sebesar 1,62%. Sumber : https://keuangan.kontan.co.id/news/hingga-agustus-2020-pembiayaan-pnm-capai-rp-1255-triliun

Selengkapnya
Penyaluran Pembiayaan PNM Mulai Pulih di Semua Lini
09/10/2020

Perusahaan pembiayaan usaha mikro pelat merah PT Permodalan Nasional Madani (Persero) mulai kembali menggenjot penyaluran pinjaman setelah sebelumnya terus merosot akibat pandemi. Seperti diketahui, setidaknya ada dua alasan kenapa PNM sebelumnya harus berpikir dua kali untuk menyalurkan pinjaman di masa pandemi Covid-19. Pertama, mayoritas nasabah PNM merupakan usaha mikro-kecil-menengah, yang jelas kesulitan membayar cicilan atau mengambil pinjaman baru akibat terdampak pelemahan ekonomi. Kedua, hal tersebut juga mengakibatkan posisi kinerja keuangan dan arus kas PNM sempat terganjal, sehingga perlu suntikan modal baru demi memperkuat kapasitas PNM dalam membayar utang sumber pendanaan. Berdasarkan data keterbukaan informasi Lembaga Keuangan Khusus terbaru yang diungkap Otoritas Jasa Keuangan (OJK), seluruh penyaluran PNM mulai naik secara bulanan sejak Juli 2020 di angka Rp16,63 triliun. Komposisi portofolionya untuk program Unit Layanan Modal Mikro (ULaMM) Rp22,49 triliun, program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (PNM Mekaar) Rp10,66 triliun. Disusul pembiayaan ke Lembaga Keuangan Mikro (LKM) dan LKM Syariah Rp9,93 triliun, dan pembiayaan Modal Usaha Kecil-Menengah Rp6,47 triliun. Seluruh lini bisnis ini tercatat mengalami kenaikan jumlah dari bulan sebelumnya. Ini menjadi pertumbuhan pertama penyaluran pinjaman PNM sejak terus merosot pada Maret 2020 di angka Rp17,96 triliun, menjadi Rp17,09 triliun (April 2020), Rp16,73 triliun (Mei 2020), dan Rp16,19 triliun (Juni 2020). Penyaluran pinjaman ini tercatat naik 2,7 persen (month-to-month/mtm) dari Juni 2020, dan naik 14,5 persen (year-on-year/yoy) dari Juli 2019 di angka Rp14,52 triliun. Namun demikian, tampak berat bagi PNM untuk mengejar kinerja laba komprehensif seperti tahun lalu. Pasalnya, kendati pendapatan operasional naik dari Rp2,44 triliun pada Juli 2019 ke Rp2,86 triliun per Juli 2020, laba komprehensif PNM per Juli 2020 hanya di angka Rp126 miliar, jauh dari periode Juli 2019 di angka Rp771 miliar. Direktur Utama PNM Arief Mulyadi menjelaskan bahwa pertumbuhan penyaluran pinjaman pada Juli 2020 ini memang direncanakan sebagai momentum kebangkitan kinerja perseroan. Pasalnya, sebelumnya PNM sempat memperkirakan bakal menutup periode 2020 dengan kinerja merugi. Oleh sebab itu, menggenjot penyaluran sejak awal semester II/2020 pun jadi kunci untuk membalikkan keadaan. Langkah ini juga demi membuka jalan merealisasikan penyertaan modal negara (PMN) Rp1 triliun yang diterima pada akhir Juli 2020 dan modal negara dari program pemulihan ekonomi nasional (PEN) Rp1,5 triliun pada September 2020. "Penyaluran Rp1 triliun kami terima pada 29 Juli, mulai disalurkan dan selesai 18 Agustus. Kinerjanya akan tampak di bulan tersebut karena permintaan pinjaman memang meningkat lagi, bahkan satu hari penyaluran kami bisa sampai Rp200 miliar," ujarnya ketika dikonfirmasi Bisnis, Selasa (15/9/2020). Arief mengungkap fokus terkini PNM selaku tangan kanan pemerintah di bidang pembiayaan UMKM, yakni menjangkau nasabah baru, terutama untuk program PNM Mekaar. Per Juli 2020, kantor cabang PNM Mekaar telah ditingkatkan menjadi 2.317 kantor, dengan jumlah nasabah yang turut mengalami peningkatan 30,27 persen (yoy) dari 4,90 juta nasabah per Juli 2019 menjadi 6,38 juta nasabah per Juli 2020. Sumber : https://finansial.bisnis.com/read/20200915/89/1291979/penyaluran-pembiayaan-pnm-mulai-pulih-di-semua-lini

Selengkapnya
Di Bali, Perwakilan Nasabah PNM Terima Banpres Produktif dari Menkop Teten Masduki
09/10/2020

Sebanyak dua perwakilan nasabah MekaaR PT Permodalan Nasional PNM wilayah Bali menerima Bantuan Presiden (Banpres) Produktif bersama warga lainnya di Karangasem Bali, Sabtu (5/9). Penyerahan Banpres Produktif Usaha Mikro tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, Teten Masduki yang diperuntukan bagi pelaku usaha mikro di wilayah itu. Sebelumnya, Presiden Joko Widodo atau Jokowi meluncurkan Program Banpres Produktif Usaha Mikro (BPUM) pada Senin, 24 Agustus 2020, di Istana Negara Jakarta. Hadir dalam acara itu, Direktur Utama PNM, Arief Mulyadi serta sepuluh orang perwakilan nasabah PNM Mekaar. Presiden Jokowi menyebut Program Banpres tersebut sebagai salah satu skema untuk membantu para pelaku usaha kecil dan mikro yang turut terdampak pandemi covid-19. Dampak tersebut berupa penurunan omzet dan laba dialami oleh seluruh pelaku usaha, baik usaha mikro, kecil, menengah, hingga pelaku usaha besar. "Pemerintah telah meluncurkan dalam 4 bulan ini berbagai skema insentif untuk usaha mikro dan kecil. Mulai dari subsidi bunga, insentif pajak untuk UMKM juga sudah, kredit modal kerja yang baru sudah, penempatan dana di perbankan untuk usaha-usaha mikro, kecil, dan menengah juga sudah," ujar Presiden. Kepala Negara menegaskan bahwa Banpres Produktif ini bukan merupakan pinjaman atau kredit, melainkan hibah. Pada kesempatan tersebut, Presiden meluncurkan bantuan senilai Rp2,4 juta untuk 1 juta pelaku usaha mikro dan kecil. "Kita harapkan nanti di akhir Agustus akan dibagi kepada 4,5 juta usaha mikro dan kecil. Akhir September 9,1 juta dan setelah itu 12 juta. Jadi totalnya nanti 12 juta usaha mikro dan kecil yang akan diberikan Banpres Produktif ini, sebesar Rp2,4 juta," jelasnya. Sumber : https://indonews.id/artikel/312329/Di-Bali-Perwakilan-Nasabah-PNM-Terima-Banpres-Produktif-dari-Menkop-Teten-Masduki/

Selengkapnya
PNM Targetkan Nasabah Aktif Mekaar Tembus 7 Juta Ibu-ibu
09/10/2020

PT Permodalan Nasional Madani (Persero) berupaya secepat mungkin menyalurkan modal untuk membantu pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) bangkit dari krisis akibat pandemi Covid-19. Direktur Utama PNM Arief Mulyadi menjelaskan bahwa ini memang sudah tugas PNM sebagai BUMN, yang bukan hanya entitas bisnis, namun punya misi sebagai tangan kanan pemerintah dalam program pemberdayaan UMKM. Terutama, bagi nasabah program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (PNM Mekaar), yang sebelumnya sekitar 300.000 nasabah tercatat sempat tak kebagian pendanaan, akibat kehati-hatian PNM dalam penyaluran dana ketika pandemi Covid-19. "Karena nasabah Mekaar itu usaha kecil milik ibu-ibu, yang saat pandemi sampai kita kasihan karena sampai mengeluh ke kami. Usaha bapak-bapak [suami] mereka sudah mati, karena kebanyakan sektor informal, kuli angkut, buruh lepas, honorer, ojek. Warung mereka itu yang menghidupi keluarga," ungkap Arief kepada Bisnis, Rabu (2/9/2020). Terkini, penyaluran modal untuk program UMKM Mekaar hingga akhir Agustus sudah mencapai Rp11,4 triliun kepada 3,7 juta nasabah, sehingga total nasabah aktif program ini telah menembus 6,57 juta nasabah. Arief menjelaskan suntikan modal pemerintah merupakan kunci PNM mampu mendongkrak pemberian modal kerja terhadap nasabahnya lebih luas dan lebih banyak lagi. Seperti diketahui, PNM mendapat jatah dua penyertaan modal negara (PMN) dari pemerintah pusat, yakni dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2020 Rp1 triliun, serta anggaran program pemulihan ekonomi nasional (PEN) akibat Covid-19 sebesar Rp1,5 triliun. "Yang Rp1 triliun sudah kita terima pada 29 Juli, mulai disalurkan awal Agustus, realisasinya selesai 18 Agustus. Memang bulan itu permintaan meningkat, satu hari bisa sampai Rp200 miliar. Karena memang nasabah kita sedang butuh berusaha lagi, karena tidak punya tabungan, dan kalau tidak ada modal, mereka tidak makan," tambahnya. Harapannya, apabila PNM program PEN cair sesuai proyeksi pada bulan September ini, Arief mengungkap pihaknya akan melakukan hal serupa, yakni menyalurkan permodalan UMKM dengan cepat. Modal negara pun bisa memperkuat posisi keuangan PNM untuk menyiapkan sumber pendanaan baru demi menggenjot pembiayaan, seperti penerbitan medium term notes (MTN), obligasi, sukuk, dan pendanaan perbankan. "Sampai Desember nanti kita mau tambah 180 cabang supaya coverage kita lebih luas. Jangkauan layanan kita targetkan sampai 4.400 kecamatan, serta mendongkrak nasabah aktif Mekaar melewati angka 7 juta," ujar Arief. Sumber : https://finansial.bisnis.com/read/20200902/89/1286295/pnm-targetkan-nasabah-aktif-mekaar-tembus-7-juta-ibu-ibu

Selengkapnya

Berita Terpopuler

PNM Telah Salurkan Bantuan Presiden k...
09/10/2020
Selengkapnya
Tahun ini PNM Alokasikan Pendanaan Rp...
16/05/2019
Selengkapnya
Serentak di 4 Kota, MMI Gelar Dialog ...
12/07/2019
Selengkapnya