Publikasi
Pandemi Corona & Bisnis Reksa Dana
28/04/2020

Pandemi wabah corona atau Covid-19 telah berdampak luas. Tidak hanya pada krisis kesehatan global hingga pelemahan perekonomian dunia, tetapi juga menjalar ke pasar keuangan di Indonesia.

Saat pertama kali diumumkan kasus positif Covid-19 di Indonesia (2 Maret 2020), indeks harga saham gabungan (IHSG) langsung melemah 1,68% ke level 5.361. Selanjutnya, IHSG terus tertekan dan merosot lebih dari 30% hingga ke level terendahnya 3.937 (24/3). Ini seiring dengan meningkatnya jumlah kasus baru Covid-19 secara cepat menembus level 100-an untuk pertama kalinya. Demikian pula, nilai tukar rupiah melemah sekitar 20% ke level terendahnya Rp16.741 per dollar AS (2/4).

Dalam dunia investasi, turunnya indeks sebenarnya  merupakan hal yang biasa. Namun, pada kenyataannya investor masih sering terkejut, khawatir, bahkan sering kali merespons dengan kepanikan (panic selling) setiap kali indeks jatuh signifikan.

Lantas, kini banyak orang (investor)  bertanya : kapan wabah corona ini akan berakhir? Apa yang mesti dilakukan investor di tengah kondisi pasar akibat pandemi Covid-19?

Tentu saja, hal itu tidak mudah dijawab. Ketika virus korona baru mulai terjadi di Wuhan, Tiongkok orang tidak pernah berpikir  virus itu akan menjadi pandemi global. Demikian pula, setelah kini cepat menyebar luas ke banyak negara di dunia dengan merenggut banyak korban meninggal, orang juga dihadapkan pada ketidakpastian  kapan Covid-19 ini akan berakhir.

Dalam teori investasi, salah satu cara yang sering dipakai untuk mencari jawaban itu adalah historical approach. Pendekatan ini menggunakan parameter yang paling mendekati dengan kasus Covid-19. Misalnya kasus wabah SARS (2003) yang dianggap mirip dengan Covid-19, walaupun disadari Covid-19 cenderung lebih luas penularannya. Mengacu pada kasus SARS saat itu, diketahui tren pelemahan pasar saham berlangsung selama 6 bulan.

Lantas, muncul ekspektasi bahwa tren kondisi bearish market akibat Covid-19 ini hanya dalam jangka pendek (Yan dkk, 2020). Khususnya, penguatan kembali lebih cepat pada saham-saham perusahaan yang memiliki fundamental kuat tetapi tertekan dalam jangka pendek akibat Covid-19.

Apalagi, optimisme ini didukung oleh pengalaman di Tiongkok sebagai titik awal pandemi Covid-19. Sejarah menunjukkan dampak dari Covid-19 pada pasar saham hanya dalam jangka pendek. Indeks Shanghai di Tiongkok melemah sekitar 12-14% selama tiga bulan. Mulai akhir Maret pasar saham di Tiongkok sudah berbalik arah dan menunjukkan tren menguat. Hingga 20 April, bursa saham di Tiongkok naik sekitar 7,2% dari level terendahnya (23/3).

Teori itu akhirnya memunculkan momentum atau timing market theory. Kejatuhan pasar akibat pandemi Covid-19 ini tidak hanya memicu koreksi pasar, tetapi juga menyediakan peluang capital gain yang signifikan.

Namun agak berbeda halnya dengan Warren Buffet. Saat dimintai pendapatnya soal respons terhadap kondisi pasar akibat Covid-19, dia mengatakan waktu epidemi korona tidak akan bisa diprediksi. "Kita tidak berpikir - dan tidak pernah berpikir - apakah pasar akan naik - turun dalam jangka pendek atau menengah (akibat Covid-19). Karena, kita yakin investor akan meraih keuntungan pada jangka panjang".

Terkait ekspektasi investor terhadap Covid-19, ada beberapa isu yang perlu dicermati karena akan menentukan narasi pasar. Pertama, tingkat penularan virus korona baik kecepatan maupun luas sebarannya bisa memicu ketidakpastian pasar. Misalnya, perpanjangan di wilayah Jakarta dan meluasnya kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di sejumlah daerah menunjukkan penularan virus yang masih relatif tinggi.

Ini semakin membuat meningkatnya risiko ketidakpastian pandemi ini. Selain itu, aktivitas bisnis akan semakin tertekan. Sehingga, investor semakin khawatir terhadap prospek ekonomi dan kinerja perusahaan yang kian suram.

Kedua, sejauh mana tingkat keparahan dampak dari virus ini. Analisis historis terkait virus korona masih sangat terbatas karena kasusnya masih berkembang dinamis. Tingkat kematian yang semula dianggap relatif rendah ternyata justru semakin melonjak. Bila tingkat keparahan pandemi ini ternyata semakin tinggi seiring tingkat penularannya, hal ini membuat ekspektasi investor akan jauh lebih serius terhadap potensi dampak banyaknya kematian dan kejatuhan ekonomi.

Dengan mempertimbangkan narasi-narasi itu, tampaknya tingginya risiko ketidakpastian ini masih akan berlangsung dan membuat kondisi pasar akan volatil dalam jangka pendek ini meski diharapkan volatilitas makin menurun. Hingga akhir pekan lalu (24/4), IHSG masih terkoreksi sekitar 17,5% sejak awal Maret lalu, membaik dibanding hingga posisi akhir Maret terkoreksi 28%.

Artinya, pergerakan indeks sudah berbalik arah dari level terendahnya pada 24 Maret 2020 setelah terkoreksi sekitar 37,5%. Dalam dua pekan IHSG menguat sekitar 22% hingga level tertingginya 4.811 (6/4). Hal ini ditopang oleh keluarnya kebijakan stimulus dari bank sentral dan pemerintah, terutama dari negara-negara besar untuk melawan dampak pandemi ini. Bursa global dan regional pun berbalik menguat. Ini menunjukkan bahwa selain sentimen faktor Covid-19, kondisi dan fundamental pasar juga berpengaruh pada kinerja pasar.

Patut diapresiasi pemerintah sudah all out melawan kasus pandemi korona. Berbagai jurus kebijakan stimulus ekonomi, termasuk stimulus ke pasar finansial terus diluncurkan. Misalnya, Bank Indonesia tahun ini sudah melonggarkan kebijakan moneter dari penurunan suku bunga acuan sebesar 50 bps menjadi 4,5% dan pelonggaran GWM. Pemerintah tercatat sudah menganggarkan paket stimulus sebesar Rp405 triliun dan lainnya.

Tentu saja, kebijakan tersebut memiliki dampak jangka pendek maupun jangka panjang. Jika terus dikelola dengan baik dan disesuaikan dengan perkembangan yang terjadi, kebijakan ini dapat memberikan harapan dan ekspektasi positif bagi kinerja pasar investasi dalam jangka panjang.

Dampak ke Reksa Dana
Bila Covid-19 memicu kepanikan tinggi di pasar saham, namun tampaknya hal itu tidak terlalu mengkhawatirkan di industri reksa dana. Industri reksa dana tampak relatif lebih stabil dalam menghadapi gejolak akibat pandemi Covid-19.

Diakui bahwa volatilitas pasar akibat Covid-19 ini telah berimbas terhadap kinerja nilai aset dana kelolaan reksa dana. Sejak awal Maret 2020 (diumumkannya kasus Covid-19 pertama kali di Indonesia) total nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana turun sekitar 8,5% menjadi sebesar Rp480,7 triliun hingga 9 April 2020. Namun demikian, penurunan ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan jatuhnya indeks pasar saham di BEI sekitar 14,7% ke level 4.649.

Bahkan, penurunan NAB itu sebenarnya lebih dipengaruhi oleh kinerja pasar daripada penarikan dana (redemption) oleh investor. Ini tercermin dari jumlah Unit Penyertaan reksa dana hanya berkurang sekitar 2,4% menjadi 413,06 miliar. Artinya, investor reksa dana masih tetap percaya pada investasi reksa dana.

Dalam situasi ini investor lebih aktif mencari informasi untuk membuat keputusan investasi yang lebih baik. Hal ini harus diantisipasi oleh manajer investasi (MI) sendiri. Ketika investor semakin memberi perhatian pada investasinya, MI dituntut semakin mengedepankan prinsip kehati-hatian (prudential asset managing) dan integritas untuk menjaga nilai investasi portofolio mereka pada saat gejolak pasar.

Belajar dari krisis moneter 1997/1998 maupun krisis finansial 2008, terbukti bahwa perusahaan jasa keuangan, termasuk manajer investasi yang dikelola dengan lebih hati-hati bisa selamat dari badai krisis itu. Bahkan dengan adanya krisis, mereka justru memiliki imunitas bisnis yang lebih kuat dalam jangka panjang. 

Dari pengalaman yang dilakukan PNM Investment Management, prinsip ini terbukti mampu memberikan kinerja yang positif di tengah gelombang pasang surut bisnis reksa dana. Salah satunya, PNM IM menjadikan produk reksa dana pasar uang (RDPU) sebagai salah satu unggulan kelolaan. Ini mengingat RDPU lebih mampu bertahan dari gejolak pasar modal, termasuk akibat Covid-19 sehingga bisa menjadi pintu masuk untuk menjaga kepercayaan investor maupun menarik investor baru, khususnya kaum milenial ke industri reksa dana.

Bahkan dari laporan Bareksa.com baru-baru ini, PNM Investment Management  menjadi salah satu dari 20 top manajer investasi dengan dana kelolaan (AUM) terbesar pada reksa dana pasar uang di Maret 2020. Bahkan, PNM IM berada di posisi puncak untuk dana kelolaan produk reksa dana pasar uang syariah. Selain itu, salah satu produknya yakni produk PNM Dana Tunai dinobatkan sebagai reksa dana pasar uang terbaik dengan pertumbuhan unit penyertaan paling tinggi dalam periode 3 tahun.

Riset Informasi

Selain memegang teguh prinsip kehati-hatian dan integritas, MI juga perlu beradaptasi dengan kondisi normal baru di industri pasar modal. Pasalnya, kasus Covid-19 ini akan mempengaruhi dan mendorong perubahan perilaku bisnis bagaimana MI menjalankan kelola dana investasinya.

Ketika terjadi gejolak pasar akibat krisis corona ini, banyak MI akan mempertimbangkan untuk melakukan reposisi portofolio investasinya. Tak kalah pentingnya, MI juga perlu menyakinkan investor bahwa mereka akan megelola volatilitas NAB secara profesional dan prudent. Apalagi dalam kondisi gejolak pasar, investor akan lebih aktif mencari informasi yang transparan dan akurat terkait investasinya.

Oleh karena itu, kasus Covid-19 ini memberikan pelajaran agar manajer investasi perlu memperkuat sistem data informasi, tidak hanya menyangkut keuangan, ekonomi dan industri. Tetapi juga, menyangkut kondisi dan sistem layanan kesehatan yang relevan. MI perlu mengoptimalkan peran analis riset untuk secara lebih dini menyusun skenario proyeksi, antisipasi dan kontinjensi untuk membantu keputusan investasi.

Meskipun laporan analis tidak hanya menjadi satu-satunya sumber informasi bagi keputusan investasi, namun laporan itu tetap penting. Laporan analis riset itu diakui cukup costly tetapi menjadi sumber daya yang sangat berguna bagi industri reksa dana, khususnya saat terjadi gejolak pasar.

Salah satunya, terkait kasus pandemi Covid-19 agar memiliki nilai lebih kuat ke depannya laporan analis riset tidak hanya fokus pada riset kuantitatif berkaitan dengan nilai aset portofolio. Tetapi, juga harus mampu memberikan riset kualitatif yang akurat yakni analisis informasi (berita) terhadap suatu peristiwa yang akan menjadi sentimen di pasar dan pada akhirnya narasi pasar itu akan ikut mempengaruhi nilai aset portofolio.

Dalam kenyataannya seperti dilaporkan Delloite's Service yang berjudul "Investment Management Operating at the Speed of the Markets", tidak banyak ditemukan publikasi analis terkait informasi soal Covid-19. Sehingga, tampak bahwa banyak analis tidak melihat secara akurat wabah virus ini menjadi pemicu bearish market.

Seperti halnya di tengah dinamika Covid-10 ini, kondisi pasar semakin rentan dipengaruhi lebih banyak oleh isu-isu atau informasi daripada data-data kuantitatif ekonomi makro maupun mikro. Informasi tentang naik-turunnya kasus Covid-19 dapat mempengaruhi turun-naiknya indeks bursa.

Dengan demikian, adanya laporan analis riset yang akurat terkait perkembangan pandemik virus korona akan bisa membantu manajer investasi untuk pengambilan keputusan timing investasi secara tepat. Karena itu, penguatan analis riset, khususnya pada analis berita atau informasi sangat dibutuhkn, bahkan sudah mendesak bagi bisnis manajemen investasi.

Pasar yang lebih digerakkan oleh informasi atau sentimen peristiwa seperti wabah Covid-19 sangat menekankan pentingnya kecepatan sistem data informasi. Ini termasuk kecepatan proses manajemen analisis yang menggunakan data informasi dan pengalaman sebagai input dan keputusan investasi sebagai output. Untuk memenuhi ekspektasi klien, suplai informasi yang cepat dan akurat sangat dibutuhkan manajer investasi untuk mengetahui seberapa cepat pasar bergerak. Data informasi yang relevan dan signifikan dalam siklus waktu yang ketat menjadi input yang sangat berguna.

Kasus Covid-19 memberikan pelajaran penting bagi komunitas manajer investasi. Manajer investasi dengan pola portofolio investasi jangka panjang diingatkan sekaligus ditantang untuk berani keluar dari pola pikir tradisional. Bisnis manajemen investasi bukan hanya soal hitung-hitungan angka profitabilitas, return, nilai aset dan data historis pasar keuangan. Lebih daripada itu, dibutuhkan perubahan organisasional, antara lain dengan penguatan manajemen sistem analis riset yang lebih peduli pada perkembangan terkait kondisi sosial (people) dan lingkungan (planet). Pasalnya, investor lebih mencari solusi untuk mencegah berulangnya kasus sejenis di masa mendatang. Tanpa adanya informasi yang aktual, akurat dan lengkap terkait aspek profit, people,  planet dan yang diproses dengan cepat seiring pergerakan pasar, manajer investasi akan sulit bekerja secara optimal khususnya pada saat-saat kritis.

Artikel ini telah tayang di Investor.id dengan judul "Pandemi Corona & Bisnis Reksa Dana"
https://investor.id/opinion/pandemi-corona-bisnis-reksa-dana

Berita Terpopuler

Tahun ini PNM Alokasikan Pendanaan Rp...
16/05/2019
Selengkapnya
Serentak di 4 Kota, MMI Gelar Dialog ...
12/07/2019
Selengkapnya
Arief Mulyadi: Penerbitan POJK PNM me...
13/07/2019
Selengkapnya