Publikasi
Geber Pembiayaan, PNM Butuh Tambahan Likuiditas Rp 4 T
09/10/2020

PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM hingga akhir tahun ini masih membutuhkan tambahan likuiditas untuk pembiayaan mencapai Rp 4 triliun. Nilai tersebut untuk mengejar estimasi pembiayaan program Mekaar sampai akhir tahun yang senilai Rp 25,34 triliun.

EVP Keuangan dan Operasional PNM Sunar Basuki mengatakan kebutuhan pendanaan ini akan dipenuhi dari berbagai macam sumber, paling besar bakal digalang dari pasar modal baik melalui obligasi maupun MTN. Sumber pendanaan lainnya adalah cairnya penyertaan modal negara (PMN) dan pinjaman bank.

"Rencana Oktober pemerintah akan suntikkan PMN Rp 1,5 triliun untuk dukung PNM. MTN melalui anak usaha lebih dari Rp 1 triliun dan komitmen perbankan. Obligasi sudah mulai proses. [Kebutuhan] lebih dari Rp 4 triliun sampai akhir tahun ini," kata Sunar dalam media briefing virtual, Rabu (7/10/2020).

Dia menjelaskan, bulan ini perusahaan tengah memproses penerbitan obligasi untuk memenuhi pendanaan tersebut. Nilai obligasi yang akan diterbitkan paling sedikit Rp 1 triliun, masih ada potensi untuk menambah nilai penerbitan tersebut mengingat perusahaan masih memiliki fasilitas senilai Rp 2,4 triliun.

Obligasi yang diterbitkan merupakan tahap keempat dari Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) PNM. PUB ini akan habis masa penerbitannya pada Mei 2021 mendatang.

Menurut Sunar, likuiditas di pasar keuangan saat ini sangat berlimpah sehingga lantaran banyak lembaga berhati-hati untuk melakukan pembiayaan sehingga kesempatan untuk menerbitkan surat utang menjadi lebih besar.

"Jadi kita melihat pasar kita tau lembaga keuangan dan bank hati-hati melakukan pembiayaan di 2020 jadi likuiditas lagi banyak. Nah makanya berdasarkan konsultasi dengan lembaga di pasar modal banyak likuiditas yang tersedia di kuartal empat ini jadi kita akan manfaatkan dulu untuk support bisnis kita," jelas dia.

Sunar menjelaskan, hingga akhir kuartal ketiga 2020 lalu nilai pembiayaan untuk program Mekaar yang menyasar pelaku usaha ultra mikro mencapai Rp 15,30 triliun dengan proyeksi sampai akhir tahun senilai Rp 25,34 triliun.

Nilai ini menjadikan akumulasi pembiayaan Mekaar sejak 2016 lalu menjadi senilai Rp 50,91 triliun sampai September lalu. Diperkirakan sampai akhir tahun nanti total pembiayaan bisa naik menjadi Rp 60,95 triliun.

Dari nilai pembiayaan tersebut, Sunar menyebutkan nilai pembiayaan bermasalah (non performing loan/NPL) di angka 0,11%. Besaran angka NPL ini diklaim berada dalam posisi terendah.

Pembiayaan tersebut sepanjang tahun ini telah disalurkan kepada nasabah PNM yang sampai periode tersebut mencapai 6,81 juta nasabah.

Diakuinya bahwa jumlah nasabah Mekaar sepanjang tahun ini cukup mengalami fluktuasi tinggi dan berada pada posisi terendahnya pada Juni 2020 lalu di angka 6,17 juta nasabah. Penurunan ini telah terjadi secara bertahap sejak April dan Mei ke angka 6,30 juta dan 6,21 juta nasabah secara berturut-turut dari posisi sebelumnya di April 6,43 juta nasabah.

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/market/20201007131755-17-192496/geber-pembiayaan-pnm-butuh-tambahan-likuiditas-rp-4-t

Berita Terpopuler

PNM Telah Salurkan Bantuan Presiden k...
09/10/2020
Selengkapnya
Tahun ini PNM Alokasikan Pendanaan Rp...
16/05/2019
Selengkapnya
Serentak di 4 Kota, MMI Gelar Dialog ...
12/07/2019
Selengkapnya