Publikasi
Diplomasi Bola dan Revolusi Reksa Dana
16/07/2019

Dewasa ini sepak bola bukan lagi soal olahraga semata, tetapi telah menjadi alat diplomasi bagi negara-negara di dunia. Pasalnya, olahraga paling populer sejagad ini bisa menjadi simbol untuk merangkul semua masyarakat dan bangsa di dunia. 
Teranyar, diplomasi bola antara pemerintah Indonesia dan Argentina di Bogor (26/6). Pada saat acara tukar cinderamata, Presiden RI Joko Widodo menerima jersey sepak bola tim nasional Argentina dengan nomor punggung 10. Sebaliknya, Presiden Argentina, Mauricio Macri diberikan sebuah bola buatan Majalengka (bola resmi pada Piala Dunia 1998).

Tak lama sebelumnya juga terjadi di Bursa Efek Indonesia (BEI). Untuk pertama kalinya perusahaan klub sepak bola, Bali United melakukan pencatatan saham perdana di bursa dengan kode saham BOLA. Peristiwa ini juga membawa misi diplomasi bola ke masyarakat investor.

BOLA bermakna go public sesungguhnya. Yakni, bukan hanya menjadi perusahaan publik, tetapi investasi saham bisa menjangkau, merangkul, dan diminati oleh banyak pemodal lokal ritel. Maklum saja, sepak bola adalah olahraga yang paling diminati oleh banyak masyarakat  dari anak-anak hingga orang tua.

Patut diapresiasi bahwa diplomasi bola ala Bali United ini cukup berhasil. Dalam proses penawaran saham perdana, emiten berkode BOLA ini mampu menarik investor individu. Bahkan, tak sedikit mereka adalah investor ritel pemula di pasar modal Indonesia yang datang dari fans fanatik klub berjuluk Jalak Bali.

Tak pelak lagi, saham perdana BOLA mengalami kelebihan minat beli alias oversubscribed lebih dari dua kali lipat. Pasca penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham, perusahaan ini dimiliki mayoritas (71%) investor individu, di mana sekitar 58%-nya adalah ritel.

Euforia IPO perusahaan klub sepak bola asal Bali ini juga berlanjut ke pasar sekunder. Harga saham BOLA melonjak hampir 70% dari harga perdana Rp 170 per saham pada perdagangan hari pertama. Bahkan, dalam waktu tiga hari saja BOLA mencapai level tertingginya Rp 444 atau melonjak sekitar 161% (19/6).

Capital gain yang tinggi ini akan memberikan efek atau sentimen positif bagi investor individu untuk membeli kembali saham IPO di masa mendatang. Maklum saja, salah satu karakteristik aktivitas IPO di Indonesia adalah motivasi investor membeli saham IPO lebih didorong untuk mengejar capital gain jangka pendek. Karena itu, Roy Sembel mengistilahkan IPO menjadi Instant Profit Overnight karena banyak sekali IPO memberikan keuntungan yang luar biasa dalam waktu singkat.

Hal ini sejalan dengan teori behavioral asset pricing model, di mana harga aset merefleksikan sentimen (Daniel dkk, 2001). Artinya, ketika aset saham IPO naik, hal ini akan memberikan sentimen positif kepada investor untuk membeli kembali saham IPO di masa mendatang.

Bila diperluas lagi, pengalaman ini akan memberikan reinforcement learning bagi masyarakat lain untuk masuk dan menjadi investor di pasar saham, setidaknya diawali di pasar perdana.

Dengan kata lain, suksesnya IPO Bali United ini menjadi diplomasi pasar modal untuk merangkul dan meningkatkan jumlah investor ritel. Memang belakangan ini, basis investor ritel domestik menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Optimisme akan prosepk pasar modal nasional semakin bersinar. 

Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan jumlah investor pasar modal mencapai 1,92 juta orang per Mei 2019. Ini meningkat 19% dari akhir 2018 sebanyak 1,61 juta orang. Bahkan, mayoritas investor adalah ritel.

Ritel, Masa Depan

Peningkatan jumlah investor pasar modal tersebut lebih didorong oleh akselerasi kenaikan jumlah investor reksa dana. Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), investor reksa dana naik lebih dari 3 kali lipat dalam 5 tahun terakhir menjadi 1,14 juta orang.

Hal tersebut lantaran reksa dana sangat strategis untuk bisa menggenjot investor ritel. Tren positif ini menggarisbawahi fenomena meningkatnya partisipasi ritel.

Pertama, penetrasi ritel yang lebih baik. Saat ini sebaran investor lokal masih terkonsentrasi di kota-kota besar di Jawa. Namun, fenomena menarik menunjukkan bahwa porsi investor dari kota-kota di Jawa semakin menurun seiring meningkatnya investor dari kota-kota besar lainnya di Sumatera, Sulawesi dan Bali.

Kedua, investor ritel memiliki daya tahan yang cukup kuat. Arus dana masuk dari investor ritel tetap berlanjut meski volatilitas pasar tinggi. Bahkan, seperti di India, investor ritel semakin memiliki minat tinggi untuk berinvestasi di reksa dana. Meskipun total nilai investasi kecil, tetapi jumlah investor besar dan mereka akan berinvestasi lebih besar di masa mendatang (Arathy dkk, 2015)

Itulah sebabnya industri reksa dana mulai ramai menggarap reksa dana ritel. Prospek industri reksa dana di Indonesia pun diyakini berada di pasar ritel. Saat ini, kota-kota kecil (baca: investor ritel) menjadi bagian dari revolusi reksa dana. "Kita melihat investor ritel sedang mendorong revolusi industri reksa dana," kata Kumar Shankar dalam sebuah artikelnya.
Sebagaimana ditunjukkan Jiju Widhyadharan (2018), selain penetrasi yang lebih besar adopsi teknologi dan perubahan regulasi membuat industri reksa dana mampu melompat ke tahap berikutnya.

Perkembangan teknologi informasi yang kian canggih telah memicu perubahan industri reksa dana. Hampir di semua proses bisnis--kelola dana, eksekusi transaksi hingga layanan nasabah--hingga digitalisasi spektrum pembayaran.
Adopsi teknologi informasi juga mengubah tren nasabah reksa dana dalam tahun-tahun terakhir ini. Pertumbuhan investor reksa dana semakin didominasi kelompok milenial. Ini menuntut bisnis reksa dana semakin simpel, cepat dan transparan.
Perubahan tren nasabah juga mengindikasikan bahwa investor milenial semakin melihat reksa dana sebagai instrumen penting bagi kebutuhan perencanaan finansial mereka.

Dalam penelitiannya "Behavior of Mutual Fund Investors" (2000), Brad Barber dkk menemukan faktor biaya reksa dana berpengaruh positif terhadap perilaku investor ritel. Yakni, pada umumnya investor sangat sensitif atau menolak reksa dana yang memiliki biaya tinggi.

Diakui bahwa kenaikan investor reksa dana di Indonesia saat ini dipicu oleh munculnya platform digital yang menjual reksa dana. Bahkan, Otoritas Jasa Keuangan menilai perkembangan investasi reksa dana akan lebih mengarah pada penjualan daring seiring berkembangnya media digital.

Untuk itu, adopsi perkembangan teknologi ini juga perlu diikuti dengan perubahan regulasi. Sehingga, para manajer investasi terdorong untuk bisa melakukan inovasi dan transformasi. Bukan hanya model layanan bisnis, tetapi juga dalam penerbitan produk-produk yang lebih berorientasi nasabah meski tetap dalam standarisasi pihak otoritas.
Hal ini akan memperdalam penetrasi industri reksa dana, mendorong efisiensi dan mengurangi biaya. Pada akhirnya akan memberikan manfaat ke investor. Bila upaya perubahan ini berlanjut, industri reksa dana bisa mengalami lompatan kuantum dalam beberapa tahun ke depan.

Bambang Siswaji
Direktur Utama PNM Investment Management

Berita Terpopuler

Tahun ini PNM Alokasikan Pendanaan Rp...
16/05/2019
Selengkapnya
Arief Mulyadi: Penerbitan POJK PNM me...
13/07/2019
Selengkapnya
Serentak di 4 Kota, MMI Gelar Dialog ...
12/07/2019
Selengkapnya