Publikasi
Banpres Tak Kunjung Sampai ke Penerima, PNM Ungkap Panjangnya Proses Penyaluran
09/10/2020

PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM ditunjuk sebagai pengusul untuk penerima Bantuan Presiden (Banpres) produktif bagi usaha mikro karena terdampak virus corona. Proses penyaluran bantuan itu dianggap panjang. EVP Pengembangan dan Legal PT PNM, Rahfie Syaefulshaaf, mengungkapkan banyaknya calon penerima Banpres yang mengeluhkan lamanya proses bantuan itu. “Ini alur bantuan produktif saya sampaikan memang panjang, saat ini di masyarakat banyak sekali keluhan bahwa kenapa Banpres sampai sekarang belum sampai ke mereka,” kata Rahfie saat konferensi pers secara virtual, Rabu (7/10). Rahfie menjelaskan, proses yang panjang tersebut dimulai dari PNM mengirimkan data para penerima bantuan ke Kementerian Koperasi (Kemenkop) dan UKM. Kemenkop lalu memverifikasi syarat penerima seperti WNI dan ada bukti memiliki usaha produktif. Setelah itu, Kemenkop lalu menyerahkan data kepada Bank BNI. BNI lalu mengembalikan data ke Kemenkop setelah data sudah diperiksa. “Setelah diperiksa BNI data itu diberikan ke Kemenkop untuk dilakukannya SIKP atau sistem informasi kredit program melalui Kemenkeu,” ujar Rahfie. Langkah berikutnya, Kemenkop mengirimkan atau mengajukan surat perintah membayar ke Kantor Perbendaharaan Negara (KPN) sebagai dasar penerbitan surat perintah pencairan dana. Surat itu juga sebagai langkah untuk dikeluarkannya rekening penampung atau rekening pemerintah lainnya.“Kemudian setelah mengeluarkan itu akan diserahkan ke BNI untuk diserahkan kepada para penerima bansos yang diajukan PNM,” ungkap Rahfie. Meski prosesnya panjang, Rahfie menegaskan Banpres tersebut tetap disalurkan kepada para penerima. Ia membeberkan saat ini nasabah yang menerima Banpres sudah mencapai 4.060.000. “Jadi prosesnya memang panjang tapi Insyaallah dengan keinginan kami menyejahterakan masyarakat dari 5,9 juta (nasabah) saat ini dalam proses 4,6 juta dan sisanya yang dilakukan penyaluran kemudian,” tutur Rahfie. Sumber : https://kumparan.com/kumparanbisnis/banpres-tak-kunjung-sampai-ke-penerima-pnm-ungkap-panjangnya-proses-penyaluran-1uLPv15lg9x/full

Selengkapnya
Hingga September 2020, PNM Salurkan Pembiayaan Rp 15,3 T
09/10/2020

EVP Keuangan dan Operasional PT Permodalan Nasional Manadi (PNM) Sunar Basuki mengatakan perseroan telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 15,3 triliun hingga akhir kuartal III 2020 alias 30 September 2020. "Jumlah penyaluran 2020 sampai September kalau dilihat ada lonjakan dari Agustus ke September dari Rp 11,4 triliun menjadi Rp 15,3 triliun," ujar Sunar dalam konferensi video, Rabu, 7 Oktober 2020. Ia mengatakan lonjakan tersebut menunjukkan ada perkembangan penyaluran yang signifikan di September 2020. "Pertama kali mencapai lebih dari Rp 4 triliun penyaluran per bulan." Berdasarkan catatan perseroan, Sunar menyebut pertumbuhan jumlah nasabah PNM sempat terkendala masuknya masa Pandemi Covid-19. Pada Januari 2020, jumlah nasabah PNM Mekaar tercatat sebesar 6,04 juta orang. Angka tersebut sempat bertumbuh hingga 6,43 juta nasabah pada Maret 2020.IFrame Setelah mewabahnya Covid-19 di Tanah Air, angka tersebut sempat anjlok hingga ke 6,17 juta nasabah pada Juni 2020. "Juni-Juli pelonggaran PSBB cukup membantu penyaluran. Tutup buku kuartal III, jumlah nasabah PNM Mekaar adalah 6,81 juta orang," ujar Sunar Apabila melihat penyaluran pembiayaan PNM dari tahun ke tahun, ia melihat kenaikannya cukup signifikan. Dari penyaluran Rp 885 miliar pada sepanjang tahun 2016, saat ini penyaluran berhasil menembus Rp 15,3 triliun untuk tahun ini hingga bulan September. Ia mengestimasikan penyaluran hingga akhir 2020 mencapai lebih dari Rp 25 triliun. Kalau diakumulasikan sejak 2016, penyaluran PNM Mekaar hingga September 2020 telah mencapai Rp 50,9 triliun dan diprediksi akan menembus Rp 60 triliun di akhir tahun ini. Jumlah penyaluran PNM 2020, ujar Sunar, diperkirakan tumbuh 6,08 persen pada September 2020. Begitu juga, outstanding tumbuh 21 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Serta NPL alias kredit macet tercatat mengalami penurunan menjadi 1,22 persen secara konsolidasi holding. Adapun struktur pembiayaan PNM terdiri atas 61 persen dari pasar modal, 22 persen pinjaman perbankan, dan 17 persen dari pemerintah. "Di Desember 2020 peran pasar modal akan naik mendekati angka 70 persen. Sebab pada Oktober-Desember kami berencana mengeluarkan obligasi PUB 3 tahap 4 Rp 1 triliun, dengan opsi upsize apabila market di pasar baik. Ini dalam rangka mendukung pertumbuhan bisnis Mekaar," kata Sunar. Sumber : https://bisnis.tempo.co/read/1393754/hingga-september-2020-pnm-salurkan-pembiayaan-rp-153-t?page_num=2

Selengkapnya
Cari Tambahan Modal, PNM Bakal Terbitkan Obligasi Rp1 Triliun
09/10/2020

PT Permodalan Nasional Madani atau PNM menargetkan hingga akhir tahun nanti, total penyaluran pembiayaan di sepanjang 2020 diharapkan bisa mencapai lebih dari Rp25 triliun. Karenanya, Executive Vice President Keuangan dan Operasional PNM, Sunar Basuki, mengaku, guna mencapai target itu, perseroan akan mencari cara untuk melakukan upaya penambahan modal, yang berasal dari berbagai sumber yang dapat diakomodasi "Salah satunya yakni melalui upaya penerbitan obligasi senilai Rp1 triliun, yang akan kami lakukan pada Oktober 2020 ini," kata Sunar dalam telekonferensi, Rabu 7 Oktober 2020. Sunar menambahkan, penerbitan obligasi penawaran umum berkelanjutan (PUB) III tahap IV senilai Rp1 triliun itu sebenarnya merupakan estimasi awal saja. Karena, jumlahnya pun bisa saja bertambah, sambil melihat dinamika pasar dan aspek penunjang lainnya. "Dalam penerbitan obligasi Rp1 triliun di Oktober ini, kami memiliki pilihan upsize. Tentunya dengan melihat apabila market di pasar naik," ujarnya. Dia menegaskan, langkah pencarian tambahan modal ini akan dimaksimalkan oleh PNM, guna mengoptimalisasi kinerja perseroan pada kuartal IV-2020 ini. Sebab, dengan pencapaian penyaluran pembiayaan pada kuartal III-2020 yang baru mencapai Rp15,3 triliun, target penyaluran Rp25 triliun di akhir 2020 memang cukup menantang untuk ditaklukkan dengan optimalisasi kinerja PNM di kuartal IV-2020. "Karena perseroan akan berupaya mencapai target penyaluran pembiayaan tersebut, dengan menggenjot kinerja di kuartal keempat tahun ini," ujar Sunar. Langkah lain yang juga akan ditempuh PNM selain penerbitan obligasi itu, adalah penerbitan medium term notes (MTN) melalui reksa dana di anak usahanya, yakni PT PNM Investment Management (PNM IM) senilai Rp1 triliun atau lebih. Di sisi lain, PNM dipastikan juga akan mendorong penambahan modal dari sektor perbankan, sebagai salah satu opsinya. "Jadi upaya penerbitan obligasi itu akan kami laksanakan mulai pekan ini, dan dipastikan sudah bisa efektif pada akhir November mendatang," tuturnya. Hingga September 2020, struktur pendanaan PNM komposisinya ditopang oleh pendanaan dari pasar modal sebesar 61 persen, penyertaan modal negara (PMN) 17 persen, dan dari sektor perbankan 22 persen. Sumber : https://www.viva.co.id/berita/bisnis/1309647-cari-tambahan-modal-pnm-bakal-terbitkan-obligasi-rp1-triliun

Selengkapnya
Perluas Bisnis, PNM akan Rilis Obligasi Rp1 T pada Kuartal IV
09/10/2020

PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM akan menerbitkan obligasi senilai Rp1 triliun dengan tenor satu tahun pada pada kuartal IV 2020. Penerbitan obligasi merupakan upaya menambah modal perusahaan untuk memperluas bisnis dan mendukung pembiayaan program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar) yang tengah bertumbuh pesat. EVP Keuangan dan Operasional PNM Sunar Basuki menyebut bahwa obligasi tersebut merupakan tahap keempat dari Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) III. Meski memasang target Rp1 triliun, perusahaan tak menutup kemungkinan untuk menaikkan nilai obligasi (upsize). "Di Oktober hingga Desember kami merencanakan untuk mengeluarkan obligasi PUB III tahap IV, rencana Rp1 triliun dengan opsi upsize apabila kondisi pasar baik. Ini dalam rangka mendukung pertumbuhan bisnis Mekaar," katanya pada media briefing 'Mengejar Mimpi dan Perbaikan Ekonomi' pada Rabu (7/10). Dalam struktur pendanaan PNM, Sunar menyebut pendanaan pihaknya mayoritas berasal dari pasar modal. Rincinya, per September 2020, dinyatakan pendanan lewat pasar modal sebesar 61 persen, diikuti oleh pinjaman perbankan sebesar 22 persen, dan terakhir pendanaan pemerintah sebesar 17 persen. Dia mengaku optimis dapat mengantongi modal usaha sesuai target, pasalnya likuiditas di pasar modal sedang tinggi karena lembaga keuangan tengah berhati-hati dalam memberikan pendanaan. "Kami lihat pasar, kalau lembaga keuangan melakukan pendanaan agak hati-hati, sehingga likuiditas sedang banyak. Berdasarkan konsultasi kami ke koordinasi pasar modal, cukup banyak likuiditas yang tersedia di kuartal empat ini," imbuhnya. Penerbitan obligasi tersebut bukan satu-satunya pendanaan yang akan dikantongi perusahaan tahun ini. Pemerintah juga akan menyuntikkan penyertaan modal negara (PMN) senilai Rp1,5 triliun pada akhir tahun ini. Tujuannya, untuk mendukung pertumbuhan PNM. Lebih lanjut, Sunar mengatakan bahwa pihaknya telah membayar lunas utang jatuh tempo untuk tahun ini. Pada 27 September lalu, PNM telah melunasi surat utang jangka menengah (Medium Term Note/MTN) senilai Rp390 miliar. Sumber : https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20201007152053-78-555547/perluas-bisnis-pnm-akan-rilis-obligasi-rp1-t-pada-kuartal-iv

Selengkapnya
PNM Telah Salurkan Bantuan Presiden ke 4 Juta Nasabah
09/10/2020

PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM menyatakan hingga September 2020 telah menyalurkan bantuan presiden (banpres) berupa tunai langsung pada 4,06 juta nasabah di masa pandemi covid-19. Satu nasabah mendapatkan bantuan sebesar Rp2,4 juta. EVP Pengembangan dan Legal PNM Rahfie Syaefulshaaf menjelaskan dari jumlah nasabah PNM sebanyak 6,3 juta yang tercatat pada Juli lalu saat program banpres diluncurkan, yang tersaring dalam proses verifikasi yakni sebesar 5,9 juta nasabah. "Saat ini kami sudah salurkan dari 5,9 juta nasabah mekaar ke 4,06 juta nasabah. Prosesnya memang sangat panjang tapi InsyaAllah sisanya akan dilakukan penyaluran kemudian," kata Rahfie dalam media briefing PNM secara daring, Rabu, 7 Oktober 2020. Rahfie menjelaskan proses yang harus dilalui dalam penyaluran banpers yakni PNM mengirimkan daftar nama penerima bantuan ke Kemenko Koperasi (Kemenkop); Kemenkop memverifikasi data dan menyerahkan ke Himbara dalam hal ini BNI; BNI menerima data yang telah diverifikasi dan mengecek SLIK lalu dikembalikan lagi ke Kemenkop; Kemenkop memproses SKIP melalui Kementerian Keuangan. Kemudian Kemenko mengajukan surat perintah membayar (SPM) ke Kantor Perbendaharaan Negara (KPN) sebagai dasar penerbitan surat perintah pencairan dana (SP2D); penerbitan SP2D untuk mencairkan dana bantuan ke rekening RPL atau rekening penampung di bank; bank menyalurkan ke rekening penerima bantuan. Rahfie mengatakan saat ini pihaknya juga tengah berupaya untuk menyaring kembali sisa dari jumlah 6,3 juta yang tidak lolos dalam tahap verifikasi. "Kita minta lakukan cleansing lagi supaya mereka dioptimalkan untuk mendapatkan banpres," ujar Rahfie. Ia mengatakan biasanya yang tidak lolos merupakan nasabah yang sudah terakses oleh pembiayaan dari perbankan atau masuk dalam program kredit usaha rakyat (KUR). "Kami enggak bisa leluasa menentukan semua debitur karena ada regulasi Kemenkop, tidak boleh debitur yang sedang mendapatkan pembiayaan dari perbankan. Sehingga nasabah yang dapat pembiayaan KUR dikeluarkan dari eligibilitas penerima banpres," tutur dia. Lebih lanjut Rahfie berharap data verifikasi tersebut bertambah sehingga semua nasabah bisa mendapatkan banpres. Bahkan, jika mengikuti target nasabah Mekaar di akhir tahun akan mencapai 7,2 juta nasabah. Sumber : https://www.medcom.id/ekonomi/bisnis/ZkeYw9Pk-pnm-telah-salurkan-bantuan-presiden-ke-4-juta-nasabah

Selengkapnya
Geber Pembiayaan, PNM Butuh Tambahan Likuiditas Rp 4 T
09/10/2020

PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM hingga akhir tahun ini masih membutuhkan tambahan likuiditas untuk pembiayaan mencapai Rp 4 triliun. Nilai tersebut untuk mengejar estimasi pembiayaan program Mekaar sampai akhir tahun yang senilai Rp 25,34 triliun. EVP Keuangan dan Operasional PNM Sunar Basuki mengatakan kebutuhan pendanaan ini akan dipenuhi dari berbagai macam sumber, paling besar bakal digalang dari pasar modal baik melalui obligasi maupun MTN. Sumber pendanaan lainnya adalah cairnya penyertaan modal negara (PMN) dan pinjaman bank. "Rencana Oktober pemerintah akan suntikkan PMN Rp 1,5 triliun untuk dukung PNM. MTN melalui anak usaha lebih dari Rp 1 triliun dan komitmen perbankan. Obligasi sudah mulai proses. [Kebutuhan] lebih dari Rp 4 triliun sampai akhir tahun ini," kata Sunar dalam media briefing virtual, Rabu (7/10/2020). Dia menjelaskan, bulan ini perusahaan tengah memproses penerbitan obligasi untuk memenuhi pendanaan tersebut. Nilai obligasi yang akan diterbitkan paling sedikit Rp 1 triliun, masih ada potensi untuk menambah nilai penerbitan tersebut mengingat perusahaan masih memiliki fasilitas senilai Rp 2,4 triliun. Obligasi yang diterbitkan merupakan tahap keempat dari Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) PNM. PUB ini akan habis masa penerbitannya pada Mei 2021 mendatang. Menurut Sunar, likuiditas di pasar keuangan saat ini sangat berlimpah sehingga lantaran banyak lembaga berhati-hati untuk melakukan pembiayaan sehingga kesempatan untuk menerbitkan surat utang menjadi lebih besar. "Jadi kita melihat pasar kita tau lembaga keuangan dan bank hati-hati melakukan pembiayaan di 2020 jadi likuiditas lagi banyak. Nah makanya berdasarkan konsultasi dengan lembaga di pasar modal banyak likuiditas yang tersedia di kuartal empat ini jadi kita akan manfaatkan dulu untuk support bisnis kita," jelas dia. Sunar menjelaskan, hingga akhir kuartal ketiga 2020 lalu nilai pembiayaan untuk program Mekaar yang menyasar pelaku usaha ultra mikro mencapai Rp 15,30 triliun dengan proyeksi sampai akhir tahun senilai Rp 25,34 triliun. Nilai ini menjadikan akumulasi pembiayaan Mekaar sejak 2016 lalu menjadi senilai Rp 50,91 triliun sampai September lalu. Diperkirakan sampai akhir tahun nanti total pembiayaan bisa naik menjadi Rp 60,95 triliun. Dari nilai pembiayaan tersebut, Sunar menyebutkan nilai pembiayaan bermasalah (non performing loan/NPL) di angka 0,11%. Besaran angka NPL ini diklaim berada dalam posisi terendah. Pembiayaan tersebut sepanjang tahun ini telah disalurkan kepada nasabah PNM yang sampai periode tersebut mencapai 6,81 juta nasabah. Diakuinya bahwa jumlah nasabah Mekaar sepanjang tahun ini cukup mengalami fluktuasi tinggi dan berada pada posisi terendahnya pada Juni 2020 lalu di angka 6,17 juta nasabah. Penurunan ini telah terjadi secara bertahap sejak April dan Mei ke angka 6,30 juta dan 6,21 juta nasabah secara berturut-turut dari posisi sebelumnya di April 6,43 juta nasabah. Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/market/20201007131755-17-192496/geber-pembiayaan-pnm-butuh-tambahan-likuiditas-rp-4-t

Selengkapnya
Cari Modal, PNM Terbitkan Obligasi Rp1 Triliun
09/10/2020

PT Permodalan Nasional Madani (Persero) berencana menerbitkan obligasi lewat Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) III Tahap IV. Obligasi diterbitkan pada Oktober 2020 dengan nilai yang mencapai Rp1 triliun. Executive Vice President Keuangan dan Operasional PNM Sunar Basuki mengatakan, langkah perseroan untuk menerbitkan obligasi untuk mendukung pembiayaan program Membina Keluarga Sejahtera (Mekar) PNM. "Di Oktober sampai September (2020) kita merencanakan untuk menerbitkan obligasi melalui PUB III tahap IV, apabila market di pasar membaik, hal ini dalam rangka meningkatkan bisnis Mekar PNM," ujar Sunar dalam konferensi pers secara virtual, Jakarta, Rabu (7/10/2020). Sunar menjelaskan, struktur pendanaan perseroan pelat merah itu secara mayoritas berasal dari pasar modal. Rinciannya, 22% dari perbankan dan 17% dari pemerintah melalui Penyertaan Modal Negara (PMN). Hal ini yang kemudian membuat perseroan menyasar sumber pendanaan dari pasar modal. Terkait dari pendanaan, PNM juga akan menerbitkan medium term notes (MTN) melalui reksa dana di anak usahanya, PT PNM Investment Management (PNM IM) senilai Rp1 triliun. Sementara itu, dalam mendukung pertumbuhan perseroan, pemerintah pun akan menambahkan PMN kepada perseroan sebesar Rp 1,5 triliun.

Selengkapnya
PNM Salurkan Permodalan Mekaar Rp15,3 Triliun hingga September
09/10/2020

PT Permodalan Nasional Madani (Persero) mencatat hingga kuartal ketiga 2020, permodalan yang telah disalurkan dalam program membina ekonomi keluarga sejahtera (Mekaar) mencapai Rp15,3 triliun. EVP Keuangan dan Operasional PNM Sunar Basuki mengatakan penyaluran pembiayaan tersebut mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Mulai 2016 sebesar Rp885 triliun, lalu tumbuh tinggi di 2017 sebesar Rp4,1 triliun, dan 2018 mencapai Rp10,3 triliun, kemudian pada 2019 sebesar Rp20,1 triliun. "Estimasi kita di akhir 2020 mencapai lebih dari Rp25 triliun," kata Sunar dalam media briefing PNM secara daring, Rabu, 7 Oktober 2020. Secara kumulatif, total pembiayaan yang telah disalurkan PNM hingga September 2020 sebesar Rp50,9 triliun. Ia menyebut proyeksi penyaluran akan lebih dari Rp60 triliun. Posisi rasio kredit macet (non performing loan/NPL) mengalami penurunan dari 0,14 persen menjadi 0,11 persen, dan secara konsolidasi holding 1,22 persen. Adapun jumlah nasabah PNM Mekaar hingga September mencapai 6,81 juta. Namun apabila digabung dengan program unit layanan modal mikro (UlaMM) maka mencapai 6,9 juta. Dalam kesempatan yang sama, EVP Bisnis ULaMM PNM Kindaris mengatakan hingga September jumlah nasabah ULaMM sebesar 282 ribu. Dirinya mengatakan adapun pembiayaan untuk program ULaMM hingga September sebesar Rp1,4 triliun. Ia bilang memang pada saat awal pandemi, penyaluran pembiayaan ULaMM mengalami penghentian sementara. Secara kumulatif, sejak program ULaMM dimulai hingga September 2020, total pembiayaan yang telah disalurkan sebesar Rp6,6 triliun. "Memang kami hentikan pembiayaan dari April-Mei. Tapi di Juni kami sudah mulai lagi pembiayaan kembali dengn terbatas. Di Juni ke Juli cukup signifikan sekitar Rp200 miliar, di September saja kami salurkan Rp313 miliar. Sisa bulan di 2020 diharapkan meningkat sehingga posisi akhir tahun sudah bisa sama dengan posisi pada masa sebelum pandemi," ujar Kindaris. Sumber : https://m.medcom.id/amp/eN4ZEp1k-pnm-salurkan-permodalan-mekaar-rp15-3-triliun-hingga-september

Selengkapnya
Hingga Kuartal III/2020, PNM Salurkan Rp15,3 Triliun
09/10/2020

Per 30 September 2020, atau di kuartal III/2020, PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM mencatatkan jumlah nasabah PNM Mekaar mencapai lebih dari 6,8 juta orang. "Jumlah nasabah Mekaar mencapai tepatnya 6.806.168 nasabah, dan penyaluran yang kami lakukan sudah mencapai Rp15,3 triliun," ujar EVP Keuangan dan Operasional PNM Sunar Basuki dalam virtual media briefing bertajuk "Mengejar Mimpi dan Perbaikan Ekonomi" di Jakarta, Rabu (7/10/2020). Sunar menyampaikan, baki debet Mekaar adalah sebesar Rp12,7 triliun dan NPL berada di angka 0,11%. Total aset PNM hingga 30 September 2020 mencapai Rp26 triliun. "Untuk jumlah penyaluran ULaMM dan Mekaar, tumbuh sebesar 6,08% yoy dan outstanding ULaMM dan Mekaar tumbuh sebesar 21,60% yoy. Jumlah nasabah ULaMM dan Mekaar juga tumbuh 27,01%," tambahnya. Pada bulan Oktober 2020, PNM juga akan menerima Rp1,5 triliun dari pemerintah yang akan digunakan untuk pertumbuhan usaha PNM. Sementara pada 27 September lalu, PNM sudah melunasi MTN senilai Rp390 miliar. "Kami juga akan menerbitkan obligasi tahap IV sebanyak-banyaknya Rp1 triliun rupiah. Ini pun ada opsi upsize jika kami melihat kondisi market baik," ungkap Sunar. Sebagai informasi, peringkat instrumen PNM memperoleh rating A+ (Single A Plus) dari Pefindo. Total nilai PUB adalah sebesar Rp6 triliun rupiah. "Per 30 September pula, struktur pendanaan PNM adalah dari pasar modal sebesar 61%, 22% dari perbankan, dan 17% dari pemerintah," pungkasnya. Sumber : https://ekbis.sindonews.com/read/188574/178/hingga-kuartal-iii2020-pnm-salurkan-rp153-triliun-1602047441

Selengkapnya
PNM Mengebut Penyaluran Pinjaman Program Mekaar
09/10/2020

Perusahaan pembiayaan modal usaha pelat merah PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM mengebut penyaluran pinjaman di semua lini bisnisnya. Arief menggambarkan bahwa nasabah PNM yang notabene ibu-ibu pemilik usaha kecil, kebanyakan memiliki suami yang bekerja di sektor informal. Walhasil, usaha kecil pun menjadi tumpuan perekonomian keluarga di tengah pandemi.Direktur Utama PNM Arief Mulyadi menjelaskan pihaknya mendorong penyaluran kredit untuk pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terutama bagi nasabah program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (PNM Mekaar) yang menjadi prioritas, karena perekonomian keluarganya yang terdampak pandemi Covid-19. "Inilah kenapa kita tambah kantor cabang Mekaar sampai 153 kantor selama bulan September. Sehingga jumlah nasabah Mekaar sudah 6,8 juta dengan penyaluran di atas Rp15 triliun," ujarnya kepada Bisnis, Jumat (2/10/2020). Berdasarkan data keterbukaan informasi Lembaga Keuangan Khusus yang diungkap Otoritas Jasa Keuangan (OJK), seluruh portofolio penyaluran PNM mulai naik secara bulanan sejak Juli 2020 di angka Rp16,63 triliun dan kembali digenjot pada Agustus 2020 mencapai Rp17,37 triliun. Komposisi portofolionya untuk program Unit Layanan Modal Mikro (ULaMM) Rp23,43 triliun, program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (PNM Mekaar) Rp11,3 triliun. Disusul pembiayaan ke Lembaga Keuangan Mikro (LKM) dan LKM Syariah Rp12,79 triliun, dan pembiayaan Modal Usaha Kecil-Menengah Rp6,6 triliun. Seluruh lini bisnis ini tercatat mengalami kenaikan jumlah dari bulan sebelumnya. Sekadar informasi, sebelumnya portofolio pinjaman PNM sejak pandemi Covid-19, terus merosot tepatnya pada Maret 2020 di angka Rp17,96 triliun, menjadi Rp17,09 triliun (April 2020), Rp16,73 triliun (Mei 2020), dan Rp16,19 triliun (Juni 2020). Sumber : https://finansial.bisnis.com/read/20201002/89/1299954/pnm-mengebut-penyaluran-pinjaman-program-mekaar

Selengkapnya

Berita Terpopuler

PNM Telah Salurkan Bantuan Presiden k...
09/10/2020
Selengkapnya
Tahun ini PNM Alokasikan Pendanaan Rp...
16/05/2019
Selengkapnya
Serentak di 4 Kota, MMI Gelar Dialog ...
12/07/2019
Selengkapnya