
Perum LKBN ANTARA mengadakan kunjungan kerja ke kantor PT. Permodalan Nasional Madani (Persero), Rabu, 11 Januari 2012. Kunjungan ke kantor yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman Kav. 2, Jakarta ini antara lain bertujuan untuk meningkatkan sinergi antara Perum LKBN ANTARA dengan PT. Permodalan Nasional Madani (Persero). Rombongan LKBN Antara diterima oleh Bapak Parman Nataatmaja (Direktur Utama), Anton Mart Irianto (Corporate Secretary), Arif Mulyadi (Kepala Divisi Pengembangan Kapasitas Usaha), dan Budiman (Kepala Bagian Corporate Communication).
Dari kunjungan tersebut, Perum LKBN ANTARA dan PT PNM setuju meningkatkan kerjasama di segala
bidang. Saat ini Nota Kesepahaman (MoU) di antara kedua perusahaan sudah memasuki tahap final dan dalam waktu dekat akan segera ditandatangani. Direktur Utama PT PNM Parman Nataatmaja dengan semangat mendorong agar MoU dapat segera dilaksanakan. “Langsung saja dibuat MoU, supaya kerjasama bisa semakin intensif,” katanya.
Dalam kunjungan itu, PT PNM berbagi cerita mengenai kisah sukses di balik transformasi bisnis dalam menjalankan usahanya. Berikut ceritanya.
Perjalanan sejarah perkembangan ekonomi di Indonesia, termasuk terjadinya krisis ekonomi pada tahun 1997, telah membangkitkan kesadaran akan kekuatan sektor usaha mikro, kecil, menengah dan koperasi serta prospek potensinya di masa depan. Nilai srategis tersebut kemudian diwujudkan pemerintah dengan mendirikan PT. Permodalan Nasional Madani (Persero) pada 1 Juni 1999, sebagai BUMN yang mengemban tugas khusus memberdayakan usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi (UMKMK). Sesuai SK Menteri Keuangan RI No. 487/KMK.017/1999 tanggal 13 Oktober 1999, PNM telah ditetapkan menjadi salah satu BUMN Koordinator Penyalur Kredit Program eks Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI) yang sebelumnya dilaksanakan oleh Bank Indonesia.
PT. Permodalan Nasional Madani (Persero) merupakan sebuah Lembaga Keuangan Khusus dimana keseluruhan sahamnya milik Pemerintah. Dari modal dasar perseroan ini sebesar Rp. 1,2 trilyun, telah ditempatkan dan disetorkan sebesar 300 milyar. Perseroan terbatas ini membukukan kenaikan pendapatan dan laba yang signifikan hingga kuartal ketiga tahun 2011. Pendapatan usaha PT Permodalan Nasional Madani (PNM), seperti yang diungkap Direktur Utama PNM, Parman Nataatmaja dalam keterangan tertulisnya adalah sejumlah Rp 489,55 miliar.
Kelahiran PT PNM ini bertujuan untuk menciptakan sebanyak mungkin pengusaha baru dari kalangan usaha mikro, kecil, menengah dan koperasi (UMKMK) dengan kemampuan yang ada berdasarkan kelayakan usaha serta prinsip ekonomi pasar. Dengan pengembangan model lembaga keuangan alternatif maka pendekatan pembiayaan yang dilakukan PNM tidak seperti pendekatan perbankan. Penguatan manajemen juga diberikan oleh PNM sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan penguatan permodalan.
Sumber pembiayaan yang disalurkan PNM berasal dari modal pemerintah, dan kini dalam penjajakan untuk memperoleh pinjaman dalam dan luar negeri. Sumber pembiayaan yang berasal dari investor lokal dan luar negeri dapat dihimpun oleh PNM melalui pengelolaan dana investasi oleh unit usaha PNM Investment Management.
Dalam operasionalisasinya, PNM bekerja sama dengan lembaga-lembaga keuangan seperti Lembaga Modal Ventura, Bank Umum/Syariah, Koperasi Simpan Pinjam, BPR/S, maupun Lembaga Keuangan Mikro/Syariah lainnya di seluruh provinsi Indonesia.
Dalam perjalanannya PNM beberapa kali turut merasakan tekanan ekonomi, termasuk ketika tahun 2005 yang dipicu oleh kenaikan harga BBM yang mengakibatkan imbas beban yang cukup berat bagi sektor UMKMK. Kemudian saat krisis ekonomi terjadi lagi di tahun 2008, dimana cukup banyak UMKMK yang mengalami kesulitan usaha bahkan hingga gulung tikar.
Guna memperluas jangkauan layanan dan dukungan kepada UMK & Koperasi, serta menjaga kesinambungan perusahaan dengan akan berakhirnya pengelolaan Kredit Program eks Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI), sejak pertengahan tahun 2008 PNM melakukan transformasi bisnis antara lain dengan mereposisi bisnis dan memperluas layanan langsung kepada UMK melalui Unit Layanan Modal Mikro (ULaMM).
ULaMM merupakan layanan pinjaman modal untuk usaha mikro dan kecil yang disertai bimbingan untuk mengembangkan usahanya. ULaMM merupakan model atau terobosan baru bagi PNM karena penyaluran pembiayaannya dilakukan secara langsung baik kepada perorangan atau pinjaman untuk Badan Usaha (PT, CV, Firma, dll).
Sebagai pilot project pada pertengahan tahun 2008 telah didirikan di 12 wilayah di DKI dan Jawa Barat, ULaMM menjadi gerai layanan di bawah satu atap atau “One Stop Shopping” bagi para pengusaha mikro dan kecil karena ULaMM dilengkapi dengan berbagai dukungan teknis bagi peminjam. Tujuannya adalah membantu usaha mikro dan kecil agar terus berkembang sekaligus mempercepat kemajuan usahanya. Dukungan tersebut meliputi pemberian konsultasi, pelatihan, pendampingan maupun pengelolaan keuangan dan akses pasar.
ULaMM memberikan keuntungan yang nyata bagi para pengusaha mikro, karena syaratnya yang jelas dan mudah. Angsuran pun gampang, karena disesuaikan dengan kemampuan bayar dan hasil usahanya, mulai dari harian, mingguan, sampai bulanan. Sedangkan tingkat bunganya bisa diperbandingkan. Yang jelas, ULaMM memang khusus dirancang untuk meningkatkan gairah usaha dan kesejahteraan masyarakat.
Melalui pinjaman modal usaha produktif ULaMM menargetkan pencapaian penyaluran pinjaman setiap tahunnya lebih dari Rp 1 triliun dan terus meningkat dalam lima tahun mendatang. Dengan menggunakan pendekatan klaster sektor usaha dalam membiayai UMK, sasaran ULaMM mencakup antara lain klaster makanan tradisional, perajin tas, sepatu dan aksesori, perajin logam hingga klaster peternak unggas.
Kisah Topi & Rempeyek
Pak Dadan Buldansyah atau yang lebih dikenal dengan Haji Buldan merupakan seorang pengusaha topi dari Bandung. Haji Buldan memulai usahanya dengan bermodal 4 unit mesin jahit dan sejumlah uang sebagai modal kerja. Kini usahanya sudah berkembang dan sudah memiliki tempat produksi sendiri dengan 18 unit mesin jahit serta mempekerjakan 21 orang pegawai. Selain itu, untuk pemasaran dia memiliki satu kios di Kawasan Wisata Belanja Cigondewah, Bandung.
Dalam menjalankan usaha, Haji Buldan bersama istrinya Hj. Ida Faridah memiliki prinsip untuk ikut membantu perajin kecil dengan cara kemitraan. Saat ini ada 15 perajin kecil yang dibina dan selalu diberi order pembuatan topi. Dengan cara ini Haji Buldan ingin bias maju berkembang bersama-sama dengan perajin lain serta menjadikan usahanya sendiri juga lebih bisa berkembang.
Kesuksesan Haji Buldan tersebut juga tidak lepas dari dukungan ULaMM Unit Leuwipanjang, Bandung yang telah memberikan dukungan pembiayaan dua kali serta pembinaan manajemen usaha. Dengan prestasinya, Haji Buldan bahkan mendapat penghargaan sebagai Debitur Unggulan untuk Produk Pembiayaan MM SUP 500 untuk fasilitas pembiayaan yang diperoleh untuk kedua kalinya. Fasilitas pembiayaan yang pertama telah berakhir, kemudian fasilitas pembiayaan kedua dilaksanakan pada tanggal 17 Juni 2009 yang jumlahnya relatif lebih besar.
“Terima kasih ULaMM PNM. Dukungan permodalan dan pembinaan kepada kami menjadikan usaha topi kami semakin maju,” ungkap Haji Buldan.
Kisah kesuksesan usaha juga datang dari Soedarto yang dulunya terkena PHK namun sekarang sukses menjadi juragan rempeyek di Yogyakarta. Awalnya Soedarto merasa terpukul saat diberhentikan dari perusahaan tempatnya bekerja. Perasaannya galau karena bukan hal yang mudah untuk mencari pekerjaan baru pada usia 40 tahun.
Pekerjaan lama Soedarso adalah sebagai tenaga marketing. Oleh karena itu ia merasa bidang itulah yang akan dia tekuni. Kebetulan tetangganya ada yang memproduksi rempeyek dan dia mencoba menjadi tenaga pemasar lepas untuk menjual panganan tersebut. Setelah dia terjuni ternyata respon pasar rempeyek cukup bagus dan peluang pasarnya terbuka lebar. Setelah itu Soedarto mulai memproduksi rempeyek sendiri dan menyiapkan strategi pemasaran supaya produknya bias diserap pasar lebih banyak.
Untuk menjual rempeyek secara efisien, Soedarto bekerja sama dnegan para pengasong yang menjual secara door to door. Para pengasong rempeyek tersebut berjualan di tempat-tempat ramai seperti di terminal bus dan stasiun kereta api. Kebanyakan mereka adalah ibu-ibu yang berjualan dengan jalan kaki door to door.
“Cara penjualan ini sebenarnya tidak sengaja. Awalnya proyeksi saya adalah kanvasing tapi ternyata yang berjalan efektif ya door to door seperti itu. Kelebihannya selain pembayarannya kontan, juga margin untuk pengecer juga lebih tinggi sehingga mereka menjadi semangat,” tutur Soedarto.
Seperti usaha kecil lain yang ingin berkembang, Soedaro juga membutuhkan bantuan dukungan permodalan dari pihak ketiga. Untuk itu ketika ada peluang mendapatkan pinjaman dari ULaMM, dia segera mengajukan pinjaman dana. Akhirnya dia mendapat kucuran kredit dari ULaMM sebesar 200 juta.
Dana tersebut diakuinya sangat bermanfaat untuk memperkuat modal kerja misalnya pembelian bahan baku dan peralatan produksi. “Seperti halnya perusahaan lain, saya juga harus menata semua aspek dari usaha ini mulai dari standar produksi, pemasaran sampai keuangan. Semuanya harus berjalan dengan baik,” tambahnya.
Bagi PNM, Lembaga Keuangan Mikro (LKM) di masyarakat harus terus dikembangkan dengan beberapa pendekatan. Pertama, diberikan penguatan manajemen dengan menerapkan sistem manajemen modern. Kedua, memperkuat permodalannya agar likuiditasnya meningkat. Ketiga, dilakukan supervisi dan pengawasan termasuk dengan menerapkan manajemen resiko.
Melalui transformasi bisnisnya tersebut, hingga Agustus 2010 PNM telah memiliki 313 Kantor Layanan di 140 kabupaten yang melayani 1.100 kecamatan dalam 19 provinsi. Apabila modal dasar PNM dapat dipenuhi, diproyeksikan hingga tahun 2014 PNM akan dapat memberikan manfaat kepada 2,1 juta UMK yang menyerap 5,5 juta tenaga kerja dan meningkatkan kesejahteraan 20 juta jiwa.
PNM percaya ULaMM memiliki keunggulan karena unit ini tidak hanya memberi pinjaman modal tapi juga bantuan pendampingan untuk pengembangan kapasitas usaha yang juga sangat dibutuhkan oleh UMK. Dalam pendampingan usaha, PNM memberikan jasa pembinaan secara total sehingga mampu menciptakan para nasabah binaan yang juga merupakan mitra agar menjadi pengusaha yang sesungguhnya.
“Keunikan layanan kepada usaha mikro kecil (UMK) yang mengombinasikan antara jasa pembiayaan dengan pembinaan non-finansial (capacity building) kembali menunjukkan kontribusi positif untuk kinerja bisnis dan pemberdayaan PNM,” ujar Direktur Utama PT PNM Parman Nataatmadja.
Alhasil, pencapaian kinerja yang baik ini juga terlihat pada tingkat kredit yang bermasalah (non-performing loan/kredit macet) bruto untuk pembiayaan mikro yang dapat terjaga pada 1,24 persen per Desember 2011. Angka ini hanya naik sedikit dari 1,15 persen pada Desember 2010.
Tahun 2011 pembiayaan ULaMM menjangkau 37.823 UMK di 1.670 kecamatan. Sejauh ini akumulasi pembiayaan yang telah disalurkan ULaMM telah mencapai Rp 4,67 triliun untuk 76.790 UMK. Realisasi tahun 2011 jauh di atas realisasi tahun 2009 yang hanya Rp 842,12 miliar. Jadi, ada pertumbuhan penyaluran pembiayaan sebesar 165 persen.
Untuk tahun 2012, PNM rencananya akan menambah 100 unit ULaMM. Penambahan ini akan mendukung kegiatan pengembangan usaha dalam hal frekuensi, jumlah peserta, dan cakupan tempat pelaksanaannya. Selain itu, PNM juga akan memiliki 582 kantor layanan yang tersebar di 25 provinsi dan akan terkoneksi secara online real time. BUMN ini juga akan menargetkan untuk mendapatkan pendanaan bagi pembiayan ULaMM sebesar Rp 3 triliun pada tahun 2012.
Dana tersebut direncanakan akan diperoleh dari instrumen pasar modal sebesar Rp 800 miliar hingga Rp 1 triliun. Sementara itu, Rp 1,7 triliun akan berasal dari perbankan dan sumber dana lainnya. Dengan begitu, pada tahun ini, PNM pun memproyeksikan pembiayaan ULaMM akan meningkat minimal sebesar 38 persen dibandingkan akhir tahun 2011.
Dukungan PNM kepada UMK tidak hanya dilakukan oleh ULaMM, melalui anak perusahaan dan subsidiaries, yaitu PT PNM Investment Management (PNM IM), PT PNM Venture Capital (PNM VC) dan PT PNM Techno Venture Syariah (PNM TVS), secara keseluruhan juga bersama-sama berpartisipasi memperkuat pembiayaan kepada para pelaku usaha. Untuk PNM VC dan PNM TVS wilayah pembiayaannya ditujukan kepada para pelaku UKM dengan nilai pembiayaan di atas nilai pembiayaan ULaMM per pelaku usaha atau perusahaan patungan usaha. Sedangkan peran PNM IM sebagai manajer investasi dimaksudkan untuk mengelola dana investasi melalui reksadana dan produk lainnya, serta mendukung pemanfaatan berbagai sumber dana untuk aktivitas pemberdayaan bagi UMKMK.

News & Event
