PNM Kembangkan UMK Produsen Slondok

MAGELANG – Menjelang akhir tahun PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM kembali melakukan pengembangan klasterisasi industri sektor usaha mikro kecil (UMK). Ini dimaksudkan untuk membantu menggali potensi pengolahan sumber daya alam setempat menjadi produk yang lebih berdaya saing.

Kali ini, PNM menggelar Sarasehan dan Kick Off Program Pengembangan Kapasitas Usaha (PKU) Klasterisasi Industri Keripik Slondok di Kajoran, Magelang yang memiliki potensi besar produk singkong. Slondok merupakan jenis makanan olahan dengan bahan baku utama singkong. Produk ini sangat populer di Jawa Tengah, khususnya di Magelang dan sekitarnya.

“Selain memberikan pembiayaan atau permodalan, PNM juga mendorong kewirausahaan pelaku UMK, khususnya dengan mengoptimalkan potensi sumber daya alam setempat. Ini dilakukan lewat program pendamping usaha yang bersifat klasterisasi,” kata Pemimpin PNM Cabang Semarang, Rahfie Syaefulshaaf di Magelang, Kamis (27/12).

Sarasehan dan kick off PKU Klasterisasi Industri Keripik Slondok ini turut diresmikan oleh Kepala Dinas Perindustrian Koperasi dan UKM Magelang, Edy Susanto dan Anggota DPRD Jawa Tengah, Yahya Haryoko.

Dalam sambutannya, Edy Susanto mengapresiasi atas bantuan PNM dalam mengembangkan industri keripik slondok di Desa Sidowangi tersebut. “Kami berharap para pengrajin keripik slondok di desa ini semakin maju usahanya dan terbuka pola pikirnya guna selalu berinovasi setelah mendapatkan pendampingan dari PNM,” ujarnya.

Seperti diketahui, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sejak lama dikenal sebagai sentra pengolahan singkong (ubi kayu) menjadi keripik slondok. Kabupaten Magelang dan sekitarnya juga telah dikenal luas sebagai sentra singkong di Jawa Tengah, dengan luasan lahan 5.426 ha dengan tingkat produksi per tahun 99.408 ton.

“Daerah Magelang yang tanahnya bercampur pasir gunung sangat cocok ditanami singkong. Singkong produksi daerah ini dikenal lebih renyah dan lebih gurih dibanding dengan singkong produksi daerah yang bertanah liat,” jelasnya.

Kepala Divisi Pengembangan Kapasitas Usaha (PKU) PNM, Arief Mulyadi menambahkan, program ini mengingat PNM menyadari kebutuhan para pelaku UMK sebenarnya lebih pada bagaimana mereka bisa meningkatkan kapasitas usahanya. Pembukaan klasterisasi Slondok diikuti oleh sekitar 56 peserta produsen Slondok.

Dalam melaksanakan Program PKU Klasterisasi Industri Keripik Slondok ini PNM melibatkan banyak pihak. Selain dibantu oleh UMK, PNM pun bekerjasama dengan perguruan tinggi, lembaga dan figur atau ahli yang terkait dengan upaya pengembangan klaster industri slondok.

PNM mengawali program ini dengan melakukan pemetaan dan inventarisasi permasalahan untuk pengembangan klaster UMK. Pada program ini PNM berkerjasama dengan Pusat Pengembangan Ekonomi (PPE) Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta yang dipimpin oleh Dr. Ardito Bhinadi.

PNM telah melaksanakan 3 kali pelatihan di daerah ini sebelum diresmikannya klaster industri keripik slondok. Materi pelatihan yang diberikan terkait dengan motivasi bisnis dan juga cara untuk memanfaatkan limbah olahan keripik slondok menjadi makanan nata de Cassava.

Untuk meningkatkan kapasitas usahanya, PNM akan membantu peningkatan teknologi pemanfaatan sisa produksi keripik slondok, kemasan & branding produk baru (slondok matang) hingga pemasarannya untuk penetrasi pasar ke pasar modern.

“Untuk jangka panjang, program ini akan membantu peningkatan kompetensi SDM di sini yakni terciptanya UMKM yang profesional, inovatif, dan berdaya saing tinggi dalam dunia usaha,” lanjutnya.

Sebelumnya, PNM telah melakukan program pendampingan usaha berbasis klasterisasi industri UMK di beberapa daerah. Di antaranya adalah Sentra Keripik Nenas di Pekanbaru, Sentra Gula Semut di Pontianak, Sentra Rempeyek Pelemadi di Bantul, Yogyakarta, Sentra Keripik Singkong di Solear, Tangerang; Sentra Pengrajin Keset Kain Limbah di Kecamatan Pringapus, Semarang, serta klaster/kelompok pengrajin gula kelapa di Pacitan.

Aktivitas pemberdayaan UMKM yang mengkombinasikan bisnis pembiayaan dan capacity building ini menjadi keunggulan dan keunikan bagi PNM dibanding para pesaingnya. Langkah ini dinilai dapat mengoptimalkan bisnis perseroan maupun kontribusi PNM dalam mendukung program pemerintah, khususnya bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah.

Lebih lanjut, Rahfie menjelaskan, hingga akhir November 2012, PNM Cabang Semarang telah menyalurkan pembiayaan mikro melalui ULaMM (Unit Layanan Modal Mikro) sebesar Rp164 miliar dengan jumlah debitur sebanyak 3.672 orang. Pencapaian tersebut tumbuh 9,8% dibandingkan dengan pencapaian hingga akhir 2011 sebesar Rp149,28 miliar.

“Hal ini menunjukkan selain prospek pertumbuhan yang tinggi, potensi sektor usaha mikro masih sangat besar di Jawa Tengah,” ujarnya.

Hingga saat ini, PNM Cabang Semarang ditopang oleh lima klaster, yaitu Klaster Pati, Klaster Pekalongan, Klaster Semarang Klaster Tegal, dan Klaster Temanggung. Kelima klaster tersebut membawahi 32 unit ULaMM. Sebanyak 6 unit di Pati, 7 unit di Pekalongan, 6 unit di Semarang, 7 unit di Tegal, dan 6 unit di Temanggung.

Saat ini, PNM memiliki jaringan sebanyak 580 Kantor Pelayanan yang terdiri dari 477 Unit ULaMM, 22 Kantor Cabang, 5 Cabang Pembantu, dan 76 Klaster dengan sebaran jangkauan di 2.247 Kecamatan di 22 Provinsi seluruh Indonesia. Secara akumulatif, sejak diluncurkannya ULaMM pada 2008 hingga saat ini PNM telah menyalurkan pembiayaan ke nasabah UMKM sebesar Rp 7,1 triliun kepada sekitar 121 ribu nasabah.

Leave a Comment