PNM Laksanakan Klasterisasi Industri UKM Keripik Nenas di Desa Kualu Nenas, Riau

1

 

Kamis, 27 September 2012, telah dilakukan “Sarasehan dan Pembukaan Program Pengembangan Kapasitas Usaha (PKU) Klasterisasi Industri UKM Keripik Nenas”,  di Desa Kuala Nenas, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau. Pembukaan program ini dilakukan oleh Bupati Kampar, H. Jefri Nur, didampingi Direktur Bisnis I PNM, Lintang Nugroho, beserta para pejabat setempat.

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari komitmen PT Permodalan Nasional Madani (Persero) untuk membantu pengembangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) melalui aktivitas capacity building yang berbasis kelompok atau klaster. Salah satu kelompok UKM yang memiliki potensi untuk dikembangkan melaui program ini yaitu sentra atau keripik nenas yang berlokasi di Kecamatan Tambang,  Kabupaten Kampar, Riau.  Desa Kuala Nenas merupakan sentra produksi nenas di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, dimana kondisi lahannya sangat mendukung untuk ditanami nenas dengan kualitas yang sangat baik.

Usaha pengolahan nenas (agroindustri nenas) menjadi keripik telah lama dikembangkan di daerah ini. Namun usaha yang mereka lakukan masih pada skala rumah tangga dan dihadapkan pada permasalahan sulitnya pemasaran, permodalan, teknologi pengolahan dll. Akibatnya, banyak pengrajin yang masih terikat dengan pedagang besar dengan harga yang rendah, sulitnya mengembangkan usaha, permasalahan kualitas produk dll.

Potensi perkebunan nenas di Kecamatan Tambang mencapai 1.550 hektare, sekitar 4,3 juta pohon, dengan total produksi mencapi 2.150 ton per tahun. Dari jumlah tersebut sekitar 1.050 hektare berada di Desa Kuala Nenas, dengan total produksi mencapai 1.456 ton per tahun atau 121 ton per bulan.

Melalui pendekatan klaster ini PNM telah merancang serangkaian pelatihan dan pembinaan untuk jangka waktu sekitar satu tahun. Pada tahap awal pembinaan telah dilakukan survey, dengan menggandeng lembaga professional. Survey dilakukan untuk mengetahui berbagai potensi dan kendala yang dihadapi para pengrajin. Tahapan pembinaan selanjutnya akan dilakukan berupa penguatan kelompok dan dilanjutkan dengan serangkaian pelatihan yang meliputi: motivasi usaha dan kewirausahaan; manajemen keuangan rumah tangga; manajemen kelompok dan dinamika kelompok; peningkatan produktivitas melalui ergonomis; pengembangan pasar dan produk, strategi harga dan channel distribusi; serta tehnik pengemasan.

Setelah mengikuti pelatihan, pihak PNM akan tetap melakukan pendampingan guna memastikan bahwa pengetahuan yang telah disampaikan bisa diterapkan. Dalam tahap pendampingan ini, PNM juga akan mambantu dalam hal: standarisasi produksi, pengembangan pasar, operasional kelompok dan koperasi, dan bantuan mockup kemasan.

Aktivitas pembinaan yang berbasis kelompok/klaster ini juga dilakukan PNM melalui 22 kantor cabangnya di seluruh Indonesia. Pola ini dilakukan secara terpadu mulai dari tahap assessment, penguatan kelompok, sampai pada pelatihan dan pembinaan. Beberapa sentra UKM yang telah mendapatkan pembinaan dari PNM antara lain  sentra  Rempeyek Pelemadi di Bantul, Yogyakarta;  sentra Keripik Singkong di Solear, Tangerang; sentra pengrajin keset kain limbah di Kecamatan Pringapus, Kab. Semarang;  serta klaster/kelompok pengrajin gula kelapa di Pacitan. Untuk masa yang akan datang PNM akan terus mereflikasi pola kelompok/klaster ini melalui kantor Cabang PNM di seluruh Indonesia.

Kegiatan capacity building ini merupakan bentuk lain dari dukungan PNM dalam  pengembangan kapasitas usaha UKM. Sebab, kebutuhan para pelaku UKM tidak hanya segi permodalan, namun aspek-aspek lain seperti manajemen produksi, pemasaran dan pengelolaan usaha lainnya menjadi kendala utama dalam mengembangkan usahanya.  Dalam memenuhi segi pembiayaan PNM melakukannya melalui Unit Layanan Modal Mikro (ULaMM) yang kini sudah berdiri sampai ke desa-desa, termasuk di sekitar lokasi sentra industri keripin nenas di Kecamatan Tambang, Kab. Kampar. Hingga saat ini PNM Cabang Pekanbaru telah mempunyai 12 unit ULaMM, dengan total pembiayaan yang telah disalurkan mencapai Rp 86 miliar untuk  1.804 nasabah. Total baki debet mencapai Rp 66 miliar.

Bentuk aktifitas pemberdayaan PNM yang mengkombinasikan antara pembiayaan dan capacity building ini merupakan pembeda antara PNM dengan lembaga pembiayaan lain. Dengan memadukan antara unsur pembiayaan dan pembinaan diharapkan dapat mengoptimalkan kontribusi PNM dalam mendukung program pemerintah dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Leave a Comment