Sarasehan dan Launching Program Pengembangan Kapasitas Usaha Kluster Keripik Singkong, Desa Cikareo, Kec. Solear, Tangerang

Pada hari ini, Kamis, 15 September 2011, telah dilakukan “Sarasehan dan Launching Program Pengembangan Kapasitas Usaha (PKU) Kluster Keripik Singkong, di Desa Cikareo, Kec. Solear, Kab. Tangerang”. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari komitmen PT Permodalan Nasional Madani (Persero) untuk membantu pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melalui aktivitas capacity building yang berbasis kluster. Kegiatan ini dilakukan oleh PNM melalui Program Pengembangan Kapasitas Usaha (PKU) di 17 kantor cabang PNM di seluruh Indonesia yang dilakukan secara terpadu mulai dari tahap assessment, pembentukan kelompok, sampai pada pelatihan dan pembinaan.

Salah satu kluster yang mendapat pembinaan dari PNM yaitu Kluster Keripik Singkong di Solear, Tangerang. Pada tahap awal pembinaan telah dilakukan survey, dengan menggandeng Universitas Trisakti (CECT Trisakti). Survey dilakukan untuk mengetahui berbagai potensi dan kendala yang dihadapi para pengrajin. Hasil survey  tersebut kemudian dibahas dalam sarasehan tanggal 15 September 2011 ini dengan menghadirkan berbagai stakeholder, serta dibuka oleh Wakil Bupati Kabupaten Tangerang, H. Rano Karno. Ikut hadir dalam kesempatan itu para Direksi dan Komisaris PNM, serta para pejabat di lingkungan Pemkab Tangerang.

Melalui pendekatan kluster ini PNM telah merancang serangkaian pelatihan dan pembinaan untuk jangka waktu sekitar satu tahun. Pada tahap awal para pengrajin telah diajak  melakukan studi banding dengan mengunjungi dua pabrik keripik singkong di Bekasi pada tanggal 21 Juli 2011 lalu. Hasil studi banding itu diharapkan mampu  menambah wawasan para peserta, sebagai bekal untuk lebih mengembangkan usahanya.

Tahapan pembinaan selanjutnya berupa pelatihan awal selama dua hari,  tanggal 28-29 Juli 2011, dimana para peserta diberi penjelasan mengenai pentingnya berkelompok dan manfaat berkelompok, serta dilanjutkan dengan pembentukan kelompok. Setelah sarasehan ini akan dilanjutkan dengan serangkaian pelatihan lainnya, baik menyangkut teknis produksi, pengemasan, manajemen usaha pemasaran dll. Mereka juga diajari mengenai administrasi keuangan dan cara mengatur keuangan rumah tangga.

Setelah mengikuti pelatihan, pihak PNM akan tetap melakukan pendampingan guna  memastikan bahwa pengetahuan yang telah disampaikan bisa diterapkan.

Dalam tahap pendampingan ini, PNM juga akan mambantu dalam hal pemasaran, antara lain dengan menghubungkan  dengan  jaringan pasar modern, sehingga mampu meningkatkan usaha para pengrajin yang akhirnya memberikan kontribusi bagi pengingkatan kesejahteraan masyarakat sekitarnya.

Aktivitas pembinaan yang berbasis kluster ini juga telah dikembangkan di daerah lain seperti Kluster Rempeyek Pelemadi di Bantul, Yogyakarta, dan beberapa kluster  lainnya. Untuk masa yang akan datang PNM akan terus mereflikasi pola kluster ini melalui kantor Cabang PNM di seluruh Indoensia.

Kegiatan capacity building merupakan bentuk lain dukungan PNM untuk pengembangan kapasitas usaha UMK. Karena dengan keterbatasan para UMK, untuk berkembang mereka tidak hanya membutuhkan dukungan permodalan, namun aspek-aspek lain seperti manajemen produksi, pemasaran dan pengelolaan usaha lainnya menjadi kebutuhan mendesak agar mereka dapat berkembang dan memiliki daya saing, sehingga tidak hanya menjalankan usaha untuk dapat memenuhi kebutuhan primernya (subsisten), namun dapat mengembangkan dan memajukan usahanya sehingga dapat memberikan nilai tambah dan manfaat (multiplier effect) lebih luas.  Selain meningkatnya kesejahteraan si pengusaha UMK, juga dapat menambah serapan tenaga kerja dan dampak ekonomis lainnya di sekeliling usahanya.

“Bentuk aktifitas pemberdayaan PNM yang mengkombi-nasikan antara pembiayaan dan capacity building ini yang membedakan PNM dengan lembaga pembiayaan lainnya.  Selain sebagai pelaksanaan dari tugas pendiriannya, bentuk ini secara luas diharapkan dapat menjadi kontribusi PNM untuk memberikan dukungan solutif bagi pelaksanaan Program Pemerintah untuk Pro Growth, Pro Pro Poor dan Pro Job,” kata Direktur Utama PNM, Parman Nataatmadja.

 

ULaMM

Sedangka untuk aktivitas pembayaan, kini PNM telah memiliki 377 jaringan Unit Layanan  Modal Mikro (ULaMM), yang merupakan ujung tombak dalam melakukan pembiayaan langsung kepada para pelaku UMKM. Meski baru dimulai tahun 2008, ULaMM telah mampu menjangkau 22 Propinsi guna mendukung finansial dan capacity building bagi usaha mikro dan kecil di 1,670 Kecamatan. Hingga Juli 2011 ini pula, melalui Unit ULaMM telah terlayani 61,667 pelaku usaha mikro dan kecil (UMK) dengan total pembiayaan sebesar Rp. 3,7 Triliun, dan di tahun 2013 diproyeksikan akan dioperasikan 600 Unit ULaMM yang diharapkan dapat melayani area 2,500 Kecamatan di seluruh Indonesia.  Dengan hadirnya ULaMM ini diharapkan akan semakin banyak pelaku usaha mikro dan kecil (UMK) yang bisa dilayani yang akhirnya mampu meningkatkan usaha mereka.  ULaMM akan menjadi one stop shopping bagi pengusaha mikro dan kecil dalam mengembangkan usahanya.

Dalam melaksanakan aktivitasnya, ULaMM tidak hanya terbatas pada penyaluran modal tetapi juga secara built in melakukan pembinaan dan pendampingan berupa pelatihan-pelatihan dan konsultasi terhadap nasabah UMK, agar usahanya bisa berkembang dan pada saatnya nanti mampu mengakses permodalan yang lebih besar, termasuk modal dari lembaga keuangan lain. Kehadiran ULaMM diharapkan mampu menjadi alternatif bagi pelaku UMK yang selama ini belum terjangkau oleh lembaga keuangan formal.

Jangkauan & Kinerja Layanan ULaMM

Keterangan 2008 2009 2010 Juni 2011
Jumlah Unit ULaMM Beroperasi 12 184 260 377
Jangkauan Layanan (Kecamatan) 50 740 1.000 1.670
Penyaluran Dana (Rp. Miliar) 11 926 2.381 3.546
Usaha Mikro Kecil terlayani 267 13.021 39.848 57.991
Penyerapan Tenaga Kerja 880 74.080 173.813 258.858

Setiap tahun berdasarkan hasil survei, PNM melalukan impact assessment atas aktifitas  pemberdayaan yang dilakukan ULaMM PNM (sejak 2010). Berdasarkan hasil survei yang dilakukan pada Januari 2011 terhadap perubahan kondisi usaha pelaku UMK satu tahun setelah menerima pembiayaan dari PNM, diketahui pembiayaan PNM berdampak pada terbukanya lapangan kerja baru, dimana jumlah tenaga kerja UMK meningkat sebesar rata-rata 26%; Omset atau penjualan rata-rata meningkat sebesar 20%; dan Asset UMK meningkat sebesar 18%.   Dengan kata lain setiap Rp 1 milyar pembiayaan dari PNM akan dimanfaatkan oleh sekitar 13 pelaku UMK yang mempekerjakan 58 tenaga kerja  dan menciptakan 15 lapangan kerja baru, dan tentunya turut mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

Sekilas PNM

PT. Permodalan Nasional Madani (Persero) lahir sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berdasarkan Peraturan Pemeritah RI No. 38 Tahun 1999 tentang ”Penyertaan Modal Negara RI untuk Pendirian Perusahaan Perseroan (Persero) dalam rangka Pengembangan Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah”, dengan maksud dan tujuan untuk: “Melaksanakan jasa pembiayaan termasuk kredit program dan jasa manajemen, untuk pengembangan koperasi, usaha mikro, kecil, dan menengah, serta usaha-usaha lainnya yang mendukung kegiatan tersebut”.

Pada Dasawarsa pertama, strategi dan aktifitas pemberdayaan PNM selain melaksanakan dan mengelola 12 Skim Kredit Program untuk UKM (eks KLBI) yang merupakan pengalihan pengelolaan dari Bank Indonesia, juga dilakukan dengan memberikan dukungan finansial dan non finansial (capacity buiding) kepada Lembaga Keuangan Mikro/Syariah (LKM/S) yang diharapkan dapat melaksanakan peran strategis dalam mendukung pengembangan dan pemberdayan UMK di daerah serta mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi melalui mekanisme monetisasi lokal.  Strategi ini dilaksanakan juga dalam rangka mendukung keterbatasan jaringan layanan PNM pada saat itu yang pada awalnya hanya memiliki 13 (tigabelas) Kantor Cabang di seluruh Indonesia.

 

Kinerja Pemberdayaan PNM hingga Desember 2009 (Pembiayaan & Jasa Manajemen) adalah sebagai berikut :

Total Penyaluran Pembiayaan                                    :           Rp 8,3 Triliun

Jumlah Lembaga LKM/S     yang dibantu                     :            1600 unit

Jumlah UMK penerima manfaat                                  :           1,1 juta UMK

Jumlah tenaga kerja                                                 :           5,5 juta TK

 

Leave a Comment